Jumaat, 8 April 2022

SATU PERJALANAN : ROHANI UMRAH

 Draf…..

ROHANI UMRAH

Muqqadimah

BismillahhirRahmannirRahim

Setelah sekian lama tidak menulis, saya terpanggil untuk kembali menulis dan berkongsi pengalaman. Membiarkan lama kalam terdiam membuat akal fikir saya semakin tepu. Alhamduliilah, saya berasa kembali bersemangat untuk menulis sekembali saya dari umrah lewat 01hb April, 2022 bersamaan 29 syaaban, 1443H. Cuma saya tidak pasti apakah kesudahan buku ini? Menjadi buku fizikal seperti buku-buku saya yang lain atau sekadar buku online dalam format pdf kerana penerbit buku saya yang dulu (Edaran Pro-Aktif Sdn Bhd) sudah tidak lagi berniaga sebagai penerbit. Saya ada ramai lagi kenalan dari syarikat-syarikat yang terbabit dalam bidang penerbitan ini seperti Karangkraf, PTS Publications dan Masa Enterprise (tempat kerja lama saya).

Sejujurnya saya lebih senang menulis apa-apa yang di dalam pengetahuan dan pengalaman saya. Bagaimanapun saya menerima pandangan dan pengalaman orang lain kerana bagi saya itulah cara saya belajar. Justeru saya mengalu-alukan pandangan, pendapat, pengalaman dari sahabat-sahabat jemaah yang turut bersama saya khususnya ustaz Zairi dan ustaz Muamil. Juga dari ustaz Rizal (atau saya senang memanggilnya tuan haji Rizal). Tidak mungkin saya mampu menuliskan kesemua nama-nama jemaah yang turut bersama saya sepanjang perjalanan umrah tersebut kerana ada antaranya saya tidak kenal pada namanya tetapi insya Allah, jika terjumpa di mana-mana, wajah kalian masih dalam ingatan!

Buku ini cuba mengupas penjalanan rohani seseorang ke Madinah, Mekah seterusnya Jeddah. Jika nanti kedapatan alur cerita yang di luar logika atau ilmu syarak ataupun usuludin, kita boleh berbincang dan bertukar pendapat, pandangan dan pengalaman. Lazimnya pertemuan antara cabang logik dengan syarak dan usuludin akan ada sedikit sebanyak khilaf dan polimik dengan tasawuf. Sama seperti 4 mahzab Hanafi, Syafie, Maliki dan Hanbali. Selagi kita berpegang kepada Al Quran dan Al Hadis, insya Allah, Allah permudahkan segala urusan.

Dan saya seperti kebiasaannya, apabila menulis, akan menggantikan kata ‘saya’ kepada ‘kami’


Tajuk kecil

Erti rohani umrah

Ahad, 24 Mei 2020

DIALOG RASULULLAH DAN IBLIS

Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.

Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.

Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.

Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.

Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1) :

“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”

Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.

Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.

Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.

Pertanyaan Nabi (2) :

“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”

Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.

Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.

Pertanyaan Nabi (3) :

“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?

Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.

Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.

Pertanyaan Nabi (4) :

Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”

Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.

Pertanyaan Nabi (5) :

“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”

Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.

Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.

Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.

Pertanyaan Nabi (6) :

“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”

Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.

Pertanyaan Nabi (7) :

“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.

Pertanyaan Nabi (8) :

“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.

Pertanyaan Nabi (9) :

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.

Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.

Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.

Pertanyaan Nabi (10) :

“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”

Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.

Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.

Pertanyaan Nabi (11) :

“Siapa yang serupa denganmu?”

Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.

Pertanyaan Nabi (12) :

“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”

Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.

Pertanyaan Nabi (13) :

“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”

Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.

Pertanyaan Nabi (14) :

“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”

Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.

Pertanyaan Nabi (15) :

“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”

Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.

Pertanyaan Nabi (16) :

“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”

Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.

Pertanyaan Nabi (17) :

“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”

Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.

Pertanyaan Nabi (18) :

“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”

Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.

Pertanyaan Nabi (19) :

“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”

Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.

Pertanyaan Nabi (20) :

“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”

Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.

(Dikutip dari : KH. Abdullah Gymnastiar, Muhasabah Kiat Sukses Introspeksi Diri, Penerbit Difa Press, September 2006)

Jumaat, 15 November 2019

BICARA BUKU RAHSIA AGAMA

MUQADIMAH





Assalamualaikum 

Bismillahhirrahmannirrahim. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Mohon limpah kurniaNya dengan sifat kalamNya yang Maha Sempurna, dapat juga kiranya kami susun buku ini menjadi satu wadah untuk tatapan generasi kini dan mendatang. InsyaAllah!

Buku ini mengajak para pembaca membongkar apa yang dibicarakan dalam agama. Dan apa yang dibicarakan dalam agama itu menyentuh bab-bab hakikat yakni kebenaran yang nyata tentang sesuatu persoalan. Maka itu kami namakan buku ini sebagai “Rahsia Agama” sebab hakikat yang diceritakan adalah rahsia-rahsia yang kerap kali kita terlepas pandang meskipun perkara yang kita terlepas pandang itu sebenarnya amat penting untuk kita ketahui.

Maka di sini, di dalam buku ini kami ingin berkongsi ilmu Allah SWT ini untuk sama-sama kita meneroka dan mengambil manfaatnya. Sekali lagi tanpa sumbangan dari sahabat-sahabat seperjuangan tidak mungkin buku ini mampu kami tuliskan secara sendirian. Kami ingin merakam setinggi-tinggi penghargaan dan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada mereka yang turut menjayakan penerbitan buku Rahsia Agama ini. Moga sedikit sebanyak, buku yang tidak seberapa ini mampu juga merungkai beberapa persoalan yang selama ini bersarang dalam benak para pembaca sekelian. Atau mungkin juga para pembaca sendiri tidak pernah memikirkannya.

Untuk memudahkan para pembaca memahami apa yang kami nukilkan di dalam buku ini, maka kami menuliskannya pada 4 bahagian utama apa yang terkandung dalam rahsia agama iaitu iman, Islam, tauhid dan makrifah. Seterusnya dipecahkan kepada beberapa bahagian kecil lagi (subtopik) untuk khusus membicarakan apa yang perlu diketahui dalam bahasan iman, Islam, tauhid dan makrifah. 

Harapan kami agar para pembaca tidak berhenti setakat melalui pembacaan pada buku ini sahaja tetapi hendaklah juga mendapatkan guru-guru yang lebih memahami dan bertaraf mursyid. Meskipun kami sedaya upaya cuba menghuraikan sesuatu persoalan dengan bahasa-bahasa yang mudah difahami, tapi haruslah para pembaca ketahui dan sedari, berguru dengan buku bukanlah satu kaedah terbaik yang disarankan. Anggap saja pembacaan sebagai satu langkah permulaan. Terima kasih.

Wasalam.

Penyusun

Jihad
24 Ramadan 1427 bersamaa 17hb Oktober, 2006
j_had04@yahoo.com.sg



AGAMA YANG DIREDAI

Di dunia ini kedapatan pelbagai agama yang menjadi anutan segolongan umat manusia. Antaranya agama yang dibawa oleh seorang tokoh yang lahir di India pada tahun 560 SM bernama Sidharta Gautama Budhha. Beliau membawa ajaran agama Buddha. Kemudian pada tahun 583 SM lahir pula Zoroaster yang membawa ajaran agama Zoroaster yang bermula di Parsi. Jesus Chirst pula mengasaskan agama Kristian. Begitu juga di sebuah negara Judea yang mengamalkan agama Yahudi atau Yahuda. Di negara kita sendiri Malaysia, kita ada beberapa agama utama selain Islam iaitu Hindu, Kristian dan Budhha.

Berbanding dengan agama-agama lain, Islam ialah agama yang datangnya terus dari Allah. Nabi Muhammad saw bukanlah pengasas agama Islam demi menunjukkan Islam itu adalah agama Allah. Baginda hanyalah seorang rasul atau Rasulullah yang beerti pesuruh Allah atau utusan Allah untuk menyampaikan agama Allah iaitu Islam. Islam adalah agama Allah maka sekaligus ia menjadi satu-satunya agama yang diredai. Agama yang mewajibkan penganutnya mentauhidkan Allah, Tuhan seru sekalian alam.

(Asy Syura:13)

“Dia telah mensyariatkan kepadamu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa iaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik, agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada (agamaNya) orang yang kembali (kepadaNya).”
(Asy Syura:13)

Telah berfirman Allah SWT dalam surah Al Maidah:3 dan Ali Imran:19 yang bermaksud,

 “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuredai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa kerana kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al Maidah:3)

(ali Imran:19)

“Sesungguhnya agama (yang diredai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, kerana kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
(ali Imran:19)

Agama yang diredai Allah SWT ialah agama yang telah cukup sempurna dari segala seginya. Sama ada dari segi ibadahnya, muamalahnya, munakahahnya dan jenayahnya. Semua ruang lingkup persoalan dan perbahasan tentang perkara-perkara tersebut telah dibahas dan dibincangkan berpandukan Al Quran dan Al Hadis serta menurut ijmak dan qias. Nabi Muhammad saw sendiri dalam kutbah terakhirnya (kutbah wida’) telah membacakan surah Al Maidah:3. Kerana kita beriman dengan Al Quran dan hadis maka sudah semestinya apa yang diberitahu dalam ayat tersebut ialah hanya agama Islam sahaja agama yang diredai Allah. 

Apa yang kami hendak sampaikan kepada para pembaca semua dalam buku ini ialah kenapa Islam itu dilihat sebagai satu-satunya agama yang diredai Allah SWT? Firman Allah, Ia telah menyempurnakan agama. Telah mencukupkan segala nikmatNya. Apa yang telah Allah sempurnakan? Nikmat apa yang telah Allah cukupkan?  Maka persoalan-persoalan ini kami bongkar dalam apa yang kami katakan ‘Rahsia Agama.’ 



RAHSIA AGAMA


“Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki akan kebaikan baginya, maka Allah akan memberikannya kefahaman tentang rahsia agama dan diilhamkannya petunjuk.”
(Riwayat daripada Muawiyyah r.a)

Yang dikatakan ‘agama’ itu terdiri dari 3 perkara yang kalau dibahas akan menemukan Islam. 3 perkara yang kami maksudkan ialah iman, Islam dan ehsan atau dalam perjalanan ilmunya dirujuk sebagai usul, feqah dan tasauf.

Yang dikatakan ‘rahsia agama’ itu terdiri dari 4 perkara iaitu iman, Islam, tauhid dan makrifah. Ada juga yang mengatakan 4 perkara tersebut adalah hasil bahasan dari 4 perkara lain iaitu syariat, tarikat, hakikat dan makrifat. Kami lebih melihat yang terkandung dalam rahsia agama itu kepada iman, Islam, tauhid dan makrifah.

Apabila menyebut tentang ‘rahsia’, maka yang difahami ialah ianya merupakan sesuatu perkara atau hal yang tidak diketahui, tidak difahami, tidak dimengerti atau sesuatu yang orang tidak tahu, sesuatu yang kita tidak tahu. Seseorang yang menyimpan rahsia bermaksud dia menyimpan sesuatu yang orang lain tidak tahu. Tidaklah menjadi rahsia jika sesuatu yang tersembunyi itu telah diketahui oleh seseorang. Adakalanya rahsia menjadi rahsia pada seseorang tetapi tidak menjadi rahsia pada seseorang yang lain. Ada juga yang berpendapat rahsia itu adalah ‘rasa’. Berdasarkan apa yang kami telah definisikan, rahsia agama itu tidak menjadi rahsia lagi jika para pembaca telah habis membaca buku ini dan memahaminya.

Apabila seseorang mengetahui rahsia agama sebenarnya dia mengetahui hakikat agama. Yang dikatakan hakikat agama ialah kebenaran yang diperolehi dengan jazam yang putus. Jazam beerti keyakinan yang hak atau kepercayaan (iman) yang mutlak tanpa berbelah bagi. Kepercayaan yang seratus peratus. Jazam ini bukan dengan jalan ilmu atau taklik semata tetapi dengan nur makrifah dari Allah SWT.

Al baqarah:147

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk di kalangan golongan yang ragu.”
(Al Baqarah:147)

Kebenaran yang disampaikan oleh manusia dengan disokong dalil Al Quran atau hadis, ijmak ulama maupun kias boleh mendekatkan kita kepada jazam tetapi ‘jazam ilmu’. Sahabat nabi ketika diberitahu oleh nabi bahawa beliau telah melakukan israk mikraj, sahabat mempercayainya dengan ‘jazam hakikat’ sebab tanpa disokong dalil dari quran dan hadis.

Oleh kerana taraf kita dengan sahabat adalah jauh maka tidak salah kalau kita mendapatkan jazam pada ilmu dahulu. Sekurang-kurangnya kebenaran atau hakikat agama kita berada dalam jabarut jazam atau jajahan jazam.

Untuk membina jajahan atau menyampaikan kepada jabarut tersebut pertama yang perlu kita lakukan ialah memohon petunjuk dan hidayah Ilahi. Petunjuk atau hidayah yang Allah SWT berikan kepada kita demi untuk mendapatkan kebaikan dan kefahaman tentang rahsia agama sebagaimana maksud hadis di atas. Kami ingin mengajak para pembaca memahami dasar atau perkara yang membentuk rahsia agama itu iaitu;
  1. Iman
  2. Islam
  3. Tauhid dan
  4. Makrifah


IMAN

Dalam sebuah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a ketika ditanya oleh malaikat Jibrail a.s apakah maksud iman, nabi lantas menjawab,

“Kamu hendaklah percaya iaitu beriman kepada Allah SWT, para malaikat, semua kitab yang diturunkan, para Rasul, percaya kepada hari kiamat dan percaya kepada qada’ dan qadar Allah.”

Maknanya perkara pokok atau usul iman itu ialah kepercayaan atau keyakinan. Dalam bab rahsia agama ini, rahsia iman itu ialah apabila kepercayaan atau keyakinan kita sampai kepada makrifatullah. Yakni apabila mengenal kita akan Allah SWT berpandukan ilmu dalam rahsia iman. Dan inilah antara perkara yang akan kami bincangkan dalam buku ini.

Furu’ iman itu kalau dalam perjalanan ilmu feqah akan dirujuk kepada 6 perkara seperti mana yang disebut dalam Al Quran pada surah Al Baqarah ayat 2 dan 3, juga seperti hadis riwayat Abu Hurairah r.a di atas. Dalam perjalanan ilmu usuludin pula ia membawa kita kepada akidah iman yang 50 iaitu apa yang mahsyur diperkatakan ulama sebagai akoidol iman. Ia memperincikan sifat-sifat bagi Allah SWT iaitu 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil dan 1 sifat harus.

Apabila iman dijadikan garis dasar untuk membentuk dan menentukan akidah seorang muslim, maka perlu seseorang itu mengetahui sekurang-kurangnya 50 akoidol iman tersebut. Ada ulama berpendapat mempelajarinya menjadi fardhu ain kepada setiap mukallaf. Kami tidak hanya terhenti kepada 50 akoidol iman ini sahaja tetapi mahu mengajak para pembaca melihat keseluruhan akoidol iman seperti yang disebut oleh ulama iaitu merangkumi 68 akoid.

Kami hanya akan menuliskan perkara-perkara yang membentuk 68 akoid dan untuk lebih memahaminya kami sarankan para pembaca mendapatkan buku-buku tauhid dan usuludin yang lain. Adapun 68 akoid itu diambil dari kalimah syahadah. 41 akoid dari kalimah tauhid “LA ILLAH HA ILLALLAH’,  9 lagi dalam kalimah Rasul “MUHAMMAD RASULULLAH’. Kalimah tauhid dan kalimah Rasul ini membentuk 2 kalimah syahadah. Apabila kita mengucapkan dua kalimah syahadah, maka inilah antara rahsianya yang perlu kita tahu. 

Jumlah bagi semua akoidol iman ialah 68 perkara. 68 perkara inilah yang melengkapkan kesemua dua kalimah syahadah. Ianya dibahagikan seperti berikut.
Yang terkandung di dalam kalimah tauhid LA ILLAHA ILLA ALLAH
  1. 14  sifat yang termasuk di dalam sifat istighna.
  2. 14  sifat yang berlawanan dengan sifat istighna.
  3. 11  sifat yang termasuk di dalam sifat iftiqar.
  4. 11  sifat yang berlawanan dengan sifat iftiqar.
Jumlah semua di dalam kalimah LA  ILLAHA  ILLA  ALLAH 50. Yang terkandung di dalam kalimah Rasul MUHAMMADUR  RASULLULLAH
  1. 4 sifat yang wajib bagi Rasul
  2. 4 sifat yang mustahil bagi Rasul
  3. 1 sifat yang harus bagi Rasul
  4. 1 sifat yang berlawanan bagi sifat harus
Jumlah semua sifat yang terkandung di dalam kalimah Rasul ialah 10.

4 perkara yang termasuk di dalam rukun iman
  1. Percaya kepada kitab-kitab
  2. Percaya kepada malaikat
  3. Percaya kepada nabi dan rasul
  4. Percaya kepada hari kiamat
Lawan bagi 4 sifat di dalam rukun iman 
  1. Menolak kepercayaan kepada kitab-kitab
  2. Menolak kepercayaan kepada malaikat
  3. Menolak kepercayaan kepada nabi dan Rasul
  4. Menolak kepercayaan kepada hari kiamat.
4 perkara di dalam rukun iman dan lawannya 4. Jumlahnya 8 perkara, termasuk di dalam kalimah Rasul. Semua perkara yang terkandung di dalam rukun iman adalah bersumber dari Rasullullah SAW kerana bagindalah yang menerangkan perkara ini semua melalui wahyu dan hadis baginda. Wajiblah kita beriman dengan apa yang telah disampaikan oleh baginda kepada kita melalui para sahabat dan tabi’in yang mengikut sunnah baginda hingga ke hari kiamat.

Dalam perjalanan ilmu tasauf, ulama memutuskan hendaklah beriman dengan af’al, asma’, sifat dan zatNya. Tasauf pada peringkat mubtadi berjalan atas dasar nafi dan isbat. Yakni menafikan af’al, asma, sifat dan zat ada pada mahkluk dengan mengisbatkan semua itu adalah hak Allah SWT jua. Kesimpulannya menafikan af’al mahkluk dan mengisbatkan af’al Allah, inilah antara kaedah beriman kepada af’al.
    
Nota Kaki:
*1 (a & b). Sifat tersebut ialah: 1) Wujud 2) Qidam 3) Baqa 4) Mukhalafatuhu lil hawadith 5) Qiamuhu Binafsih 6) Samak 7) Basar 8) Kalam 9) Samian 10) Basiran 11) Mutakaliman 12) Mahasuci Allah dari mengambil faedah akan perbuatanNya 13) Tiada wajib Allah menjadikan alam ini 14) Tiada memberi bekas suatu kaenat dengan kuatnya. *Lawannya: 1) Adam (tiada) 2) Baharu 3) Fana 4) Bersamaan Allah dengan sekelian yang baharu 5) Berkehendak akan sesuatu untukNya berdiri 6) Pekak 7) Buta 8) Bisu 9) KeadaanNya yang pekak 10) KeadaanNya yang buta 11) KeadaanNya yang bisu 12) Mengambil faedah akan perbuatanNya 13) Wajib Allah menjadikan bumi ini 14) Memberi bekas akan suatu kaenat.

*2 (c & e). Sifat tersebut ialah: 1) Wahdaniah 2) Qudrat 3) Iradat 4) Ilmu 5) Hayat 6) Qodirun 7) Muridun 8) Ilmun 9) Hayyun 10) Baharu sekelian alam  11) Tiada memberi bekas akan suatu kaenat dengan tabiatnya (zatnya). *Lawannya: 1) Berbilang 2) Lemah 3) Nafsu 4) Bodoh 5) Mumkinul hayat 6) Keadaan halnya yang berkuasa 7) Keadaan halnya yang berkehendak 8)Keadaan halnya yang berilmu 9) Keadaan halnya yang hidup 10) Qadim/kekal 11) Memberi bekas akan suatu kaenat dengan tabiatnya (zatnya).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, seorang sahabat pernah bertanya kepada nabi, “Amal yang bagaimanakah yang paling utama ya Rasulullah?” Jawab baginda, “Iman dengan Allah SWT.” Tanyanya lagi, “Kemudian apa?” Jawab baginda, “Jihad fisabilillah.” Tanyanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Jawab baginda seterusnya, “Haji yang mabrur.”

Peringkat-peringkat iman atau kepercayaan dibahagikan kepada 5 tahap iaitu,
  1. Iman taklid
  2. Iman ilmu
  3. Iman ayan
  4. Iman hak dan 
  5. Iman hakikat


1. Iman taklid

Beerti kepercayaan yang disandarkan kepada seseorang yang dipercayai. Sebagai contoh seseorang yang berkata “Aku mempercayai perkara tersebut kerana guruku berkata demikian.” Bersandar hanya kepada kata-kata guru semata meletakkan dia dalam tahap iman taklid. Menurut ulama tidak sah iman seseorang yang hanya bertaklid atau mempercayai kata-kata orang yang dipercayainya.

Sebagaimana yang ditetapkan ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah, penentuan akidah iman seseorang perlu merujuk kepada 4 sumber iaitu Al Quran, Al Hadis, ijmak ulama dan qias. Untuk melepasi tahap iman taklid ini perlulah seseorang melihat kata-kata dari orang yang dipercayainya adakah dari mana-mana 4 sumber yang digariskan ulama. Ini akan mengangkatnya ke tahap sekurang-kurangnya iman ilmu. Bagi pendapat kami, daripada tidak mempunyai iman langsung, duduk pada tahap iman taklid inipun adalah memadai untuk peringkat permulaannya.

Kami ingin mengajak para pembaca memperhalusi lagi definisi taklid atau bersandar ini. Telah dikhabarkan oleh ulama, iman yang bersandar pada seseorang adalah tidak sah. Iman yang bersandar pada sesuatu juga tidak sah apatah lagi jika sesuatu itu adalah benda seperti patung, kayu, batu atau berhala. Bukan saja tidak sah malah perbuatan tersebut juga mengeluarkan seseorang dari Islam. Dia telah menjadi murtad dan melakukan syirik yang tidak mendapat keampunan Allah SWT.

Apakah para pembaca pernah terfikirkan natijahnya pula pada seorang muslim yang imannya bertaklid pada Al Quran? Kami sedar apa yang kami usulkan ini sebenarnya mengundang kontroversi tetapi demi menghuraikan definisi taklid menurut rahsia yang dirasa melalui amal, wajar rasanya kami berkongsi pemahaman. 

Secara peribadi kami berpendapat tidak sah iman seseorang yang bertaklid pada Al Quran. Taklid yang kami maksudkan ialah dengan mempercayai Al Quran boleh memberi petunjuk. Pada hakikatnya yang memberi petunjuk hanyalah Allah SWT jua. Justeru bertaklid pada Al Quran adalah dengan maksud taklid pada ilmuNya yang disampaikan melalui kalamNya.  Jika kita bertaklid Al Quran yang memberi petunjuk maka pemahaman sedemikian telah meletakan kita pada syirik nyata tahap kedua iaitu menyamakan Allah pada salah satu sifatNya. Contohnya meletakkan ada pada Al Quran sifat kudrat yakni kuasa untuk memberi petunjuk sedangkan yang nyatanya Allah juga yang memiliki sifat kudrat tersebut. Kami rasa perkara ini dapat para pembaca fahami melalui ilmu saja. Jika beramal, para pembaca akan dapat faham bagaimana sifat kudrat tersebut ada pada Al Quran. Hal ini juga termasuk dalam ilmu mukasyafah yang tidak dapat kami huraikan di sini.

Keyakinan yang hanya Allah saja boleh memberi petunjuk berdasarkan beberapa firmanNya dalam Al Quran antaranya,

Al baqarah:5

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Al Baqarah:5)

(Al Baqarah:38)

“Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjukKu, nescaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Al Baqarah:38)

Apa pula maksud Allah bila Dia berfirman,

(Al Baqarah:2)

“Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
(Al Baqarah:2)

Pada ayat lain dalam surah yang sama Allah SWT berfirman pula yang maksudnya,

“…Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu…”
(Al Baqarah:4)

Maknanya di sini seseorang perlu beriman yakni percaya kepada Al Quran tanpa keraguan, ia (Al Quran) boleh memberi petunjuk. Yang para pembaca perlu faham di sini ialah beriman pada Al Quran beerti Al Quran itu adalah kalam Allah yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia dan petunjuk itu ialah dari sudut definisi ‘segala ajaran-ajaran Islam berupa suruhan dan laranganNya yang dituliskan dalam Al Quran.’ Dalam bahasa mudahnya Al Quran sebagai panduan atau pedoman bagaimana untuk melaksanakan syariat Islam sebaik-baiknya.

Contohnya dalam Al Quran ada perintah untuk berbuat amar makruf dan mencegah nahi mungkar. Panduan untuk berbuat amar makruf ada dinyatakan dalam Al Quran seperti mendirikan solat, puasa dan zakat. Nahi mungkar seperti mencuri, berzina dan melakukan syirik. Apa yang disuruh dan ditegah, boleh dirujuk dalam Al Quran. Ini maksud kami Al Quran itu sebagai panduan atau pedoman untuk melaksanakan syariat Islam.

Akan tetapi dengan sekian banyak panduan dan pedoman yang kedapatan dalam Al Quran tersebut, apakah ia (Al Quran) benar-benar dapat memberi petunjuk? Jawabnya tidak, sebab berapa ramai orang yang membaca Al Quran dan faham apa yang disuruh dan ditegah dalam kitab tersebut, kemudiannya melakukan juga perbuatan yang bertentangan dengan suruhan Al Quran. Ini membuktikan yang memberi petunjuk sebenar-benarnya adalah Allah SWT juga, bukan Al Quran! Al Quran hanyalah perantaraan kalam Allah pada umat manusia. Yang wajib kita imani di sini ialah sesungguhnya benar-benarlah Al Quran itu diturunkan Allah, bukan ciptaan manusia. Dan ianya menjadi pedoman atau panduan untuk kita menjalankan syariat Islam. Semoga para pembaca memahami maksud kami.


2. Iman ilmu

Untuk makluman para pembaca dikatakan iman ilmu ini kebanyakkannya berada pada orang-orang kafir. Mereka beriman kepada Tuhan tetapi kafir kepada kerasulan nabi Muhammad SAW. Orang-orang kristian terutamanya mengakui akan Allah SWT tetapi tidak boleh menerima Rasulullah sebagai nabi mereka. 

Orang-orang yang berada pada tahap iman ilmu ini juga menguasai ilmu usuludin malah ada antara mereka yang menjadi tenaga pengajar di universiti Al Azhar dalam bidang usuludin. Cuma usuludin mereka lebih berpaksi pada akal yang akhirnya menjadikan ilmu usuludin itu mirip sebagai ilmu mantik seperti apa dapat kita lihat pada fahaman Nasrani dan Yahudi.

Ijmak ulama juga menghukumkan iman ilmu ini tidak sah. Di kalangan orang-orang Islam sendiri, mereka yang percaya kepada Allah SWT dan rasulNya tetapi tidak melaksanakan tanggungjawab sebagai seorang muslim, tidak memenuhi kewajipan menjalankan syariat, melakukan nahi mungkar dan meninggalkan amar makruf, mereka ini boleh juga dikategorikan sebagai berada dalam tahap iman ilmu sahaja. 

Ada juga ulama yang berpendapat tahap iman seperti itu dikenal sebagai iman tasdiqi atau iman iqrari iaitu berada pada tahap pengakuan dan kata-kata tetapi tidak melaksanakan pengakuan dan kata-kata tersebut dalam bentuk ibadah. Kami berpendapat iman tasdiqi ini lebih tinggi sedikit dari iman ilmu.  


3. Iman Ayan

Jumhur ulama ilmu kalam mengatakan iman ini sah manakala sebahagian yang lain berpendapat sebaliknya. Mereka yang mempercayai kata-kata orang yang dipercayai kemudian memikirkannya kembali dengan kekuatan akalnya tidak semata-mata menerima taklid dari orang yang memberitahukan kepadanya. Bagi kategori iman ini, pelaksanaan ibadah adalah wajib ke atasnya.

Bagaimanapun sebahagian ulama yang tidak mengakui sahnya iman ayan ini kerana berpendapat dia tidak sampai kepada tahap mengisbatkan Allah SWT pada af’al, asma, sifat dan zatNya; sekaligus mengelincirkannya kepada syirik yang mana hal inilah yang membatalkan atau menggagalkan kesempurnaan imannya. Kami berpendapat inilah iman kebanyakan orang awam.  

4. Iman Hak

Iman hak ialah iman bagi orang-orang yang mempelajari dan mendalami ilmu kalam atau ilmu usuludin. Mereka dapat membezakan antara Khaliq dengan hamba. Mereka mengenal sifat-sifat mazmumah yang menjadi pakaian syirik halus. Mereka ini hanya melakukan ibadah semata-mata mengharapkan keredhaan Allah SWT. Inilah iman peringkat mutawasid atau pertengahan.

Ulama mengatakan iman mereka ini sah walaupun tidak sampai kepada hakikat kesempurnaan. Akan tetapi pada mereka ada rahsia iman tersebut yang mana dengan pembukaan rahsia tersebut membolehkan mereka merasa kemanisan iman seterusnya mendorong mereka mendapatkan iman hakikat. 


5. Iman Hakikat

Inilah iman peringkat muntahi iaitu peringkat tertinggi sekali. Inilah iman yang dikecapi oleh para nabi dan wali-wali Allah SWT. Iman hakikat beerti seseorang yang merasa apa yang telah dirasa oleh orang yang merasa (seperti yang dirasa oleh para wali-wali Allah). Apabila menceritakan perihal rahsia agama atau rahsia iman, mereka berkata atas apa yang telah mereka rasa. Tidak hanya melalui sangkaan atau mendengar cakap orang lain.

Inilah peringkat iman yang sah lagi sempurna menurut ulama. Mereka disebut orang-orang yang telah sampai ke makam Tuhannya. Mereka memperoleh ilham atau laduni terus dari Allah SWT. Berkata orang-orang arif, “Siapa yang merasa, dialah yang tahu!”  

Meskipun iman hakikat ini dikatakan menjadi pakaian para anbiya dan wali Allah namun kami berpendapat dengan sifat Ar Rahman dan Ar Rahim Allah SWT, tidak mustahil bagi kita di peringkat awam maupun pertengahan sampai kepada iman hakikat ini. Mereka yang beramal dengan amalan tauhid dan terus menerus bermusyahadah kepadaNya, insyaAllah akan dibukakan Allah pintu rahsia iman tersebut.

Perkara-perkara Yang Membatalkan Iman

Perkara-perkara yang membatalkan iman seseorang seterusnya menghalangnya daripada membuka hijab rahsia agama ialah syirik. Kami membahagikan syirik pada 2 bahagian utama iaitu,

i) Syirik melalui iktikad. Beerti menyekutukan Allah SWT dengan iktikad sifat mahkluk sama seperti sifat Allah terutama dalam soal kudrat dan iradat termasuk soal qada’ dan qadar. Ulama menghukumkan kafir jika kedapatan iktikad ini pada diri seseorang.

ii) Syirik melalui perbuatan. Beerti perbuatan yang menyalahi syarak seperti menyembah selain Allah (menyembah berhala). Ulama menghukumkan murtad malah ada yang berpendapat dibolehkan membunuh mereka yang murtad ini.

Kalau para pembaca mempelajari ilmu usuludin, perkara yang membatalkan iman dibahagikan kepada 3 perkara iaitu,
i) Melakukan syirik nyata atau syirik jali iaitu salah satu dari 3 bahagian berikut atau kesemuanya iaitu menduakan Allah pada zat, menyamakan Allah pada sifat dan menyekutukan Allah dalam ibadah; maka ulama usul mengatakan batallah iman seseorang itu. 

ii) Melakukan syirik halus atau syirik khafi iaitu ada di dalam hati seseorang  sifat-sifat tercela atau sifat-sifat mazmumah seperti khianat, dengki, ujub, riak, suma’ah dan sebagainya.

iii) Melakukan syirik halus lagi tersembunyi atau syirik khafi ul khafi iaitu berfahaman ithnaniah al wujud. 

Kalau para pembaca mempelajari ilmu tasauf, perkara yang membatalkan  iman dibahagi kepada 4 bahagian iaitu,
  1. Menafikan af’al Allah
  2. Menafikan asma Allah
  3. Menafikan sifat Allah
  4. Menafikan zat Allah
* Kami pernah menjelaskan panjang lebar berkenaan hal di atas dalam sebuah buku bertajuk Tauhid Dalam Tasauf – Penyusun.


ISLAM

Islam, di samping dilihat sebagai nama satu agama, ia dilihat juga sebagai satu dasar bagi mewujudkan ‘hablulminnanas’ iaitu hubungan sesama manusia atau persaudaraan khususnya dengan mereka yang seagama. Akan timbul kekeliruan jika kami mengatakan Islam adalah dasar perhubungan antara sesama manusia sedangkan definisi Islam menurut kebanyakkan buku ialah “Penyerahan diri kepada Allah SWT iaitu tunduk patuh atau berserah diri dengan penuh keikhlasan”. Dari segi ini nampak Islam adalah hubungan antara manusia dengan Allah atau disebut ‘hablulminallah’ . 

Sesuai dengan maksud kami untuk membongkar rahsia Islam, maka kami berpendapat berlakunya hubungan hablulminallah ialah bila mana kita melihat Islam pada tahap kedua. Pada tahap ini kita tidak melihat Islam pada sudut ilmunya tetapi melihat dengan mata hati yakni merasai Islam pada sudut amalnya. Pada tahap pertama, bahasan Islam secara keseluruhannya mencakupi ibadah. Sebagai contoh untuk mudah difahami, Islam menggalakan umatnya menunaikan sembahyang secara berjamaah. Tujuannya adalah agar terjalin sirratulrahim dalam jamaah tersebut. Kita jangan melangkaui pemikiran kita kepada tahap kedua, tetapi pada tahap pertama ini; yang menyaksikan kita sembahyang ialah antara kita sesama kita. Orang-orang di sekeliling kitalah yang melabel kita sebagai warak, jahil, arif dan sebagainya. Mereka juga yang menjatuhkan hukum sama ada sembahyang kita sah, batal, makruh dan sebagainya. Tetapi di sisi Allah SWT, belum tentu dalam ritual ibadah kita itu menyampaikan kita kepadaNya hingga boleh kita mengatakan adanya hablulminallah. 

Jangan para pembaca berhenti di sini sebab kenyataan atau pendapat kami ini memangnya sukar untuk diterima setelah sekian lama kita disogokkan dengan dakwaan berlakunya hablulminnallah dalam Islam. Bagaimanapun, kami bukan menolak secara mutlak ketiadaan hubungan kita dengan Allah SWT dalam Islam akan tetapi ada tahapnya untuk kita lepasi barulah hal tersebut dapat kita kecapi. Justeru kami dalam skop rahsia, maka rahsia itulah yang akan kami huraikan. 

Penerangan kami pada tajuk kecil nanti akan membantu para pembaca memahami bagaimana maksud kami apabila mengatakan Islam hanyalah jalinan hubungan sesama manusia, bukan hubungan dengan Allah SWT secara totalnya. 

Yang membezakan Islam dengan agama lain ialah tauhid atau esa atau ahad. Kita tidak dapat membezakan Islam dengan agama lain dari aspek ibadah, muamalah, munakahah maupun jenayah. Tauhid dalam Islam kalau didefinisikan dalam ruang lingkup ilmunya sahaja pun tidak akan menampakkan sebarang perbezaan besar antara Islam dengan agama lain kecuali dengan makrifah yang diperolehi dalam amalan tauhid. 

Untuk tidak mengelirukan para pembaca, persamaan yang kami maksudkan ialah dasar-dasar yang didirikan oleh sesuatu agama. Ibadah dalam konteks agama Islam ialah sembahyang dan puasa (sekadar beberapa contoh). Muamalah menyentuh urusan jual beli (ekonomi). Munakahah menyentuh perkahwinan manakala jenayah menyentuh salah laku yang boleh mensabitkan seseorang kepada hukuman. Kalau kita perhatikan, ibadah ini ada pada orang kristian dan hindu. Mereka juga ke gereja dan kuil untuk bersembahyang. Mereka juga terbabit dalam perniagaan, berkahwin dan dihalang dari melakukan jenayah. Ini semua termasuk dalam tuntutan agama mereka juga seperti Islam. Dari sinilah maksud kami dasar agama itu tidak banyak perbezaannya. Dari segi tauhid, Islam adalah agama yang esa, tidak berfahaman triniti maupun ithnaniah al wujud. Jika kita berpendapat dalam agama lain tiada ritual ibadah, kita silap! Kita bersangka demikian kerana bagi kita ibadah ialah sembahyang sebagai contohnya. Kita tidak dapat menganggap sembahyang agama lain sebagai satu ibadah tetapi sebagai satu ritual biasa. Jangan lupa mereka juga menganggap sembahyang kita itupun sebagai satu ritual biasa. 

Menyentuh ibadah dalam Islam, nabi pernah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Bazzar bermaksud,   

“Islam itu ada 8 bahagian. Islam satu bahagian. Solat satu bahagian. Puasa satu bahagian. Zakat satu bahagian. Haji satu bahagian. Menyuruh kepada makruf satu bahagian. Menghalang daripada mungkar satu bahagian dan jihad satu bahagian. Maka celakalah mereka yang tidak mempunyai salah satu bahagian daripadanya.”
(Riwayat daripada Al Bazzar)

Rahsia dalam Islam yang perlu kita ketahui ialah dengan memahami perkara-perkara yang menjadi tunjang dalam Islam iaitu 4 perkara pokok.
  1. Ibadah
  2. Muamalah
  3. Munakahah
  4. Jenayah
i) Ibadah

Ibadah dibahagi kepada 2 bahagian iaitu ibadah khusus dan ibadah umum. Daripada 2 bahagian ibadah ini ada yang hukumnya fardhu ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Hukum dalam ibadah dibahagi kepada 2 menurut ilmu usul feqh iaitu,
  1. Hukum taklifi
  2. Hukum wad’i
i) Hukum taklifi.

Jumhur ulama menetapkan hukum taklifi dibahagi kepada 5 iaitu,
  1. Wajib – firman yang menuntut sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
  2. Sunat – firman yang menuntut sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak pasti.
  3. Haram – firman yang menuntut meninggalkan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti.
  4. Makruh – firman yang menuntut meninggalkan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak pasti.
  5. Harus – firman yang membolehkan sesuatu untuk dibuat atau sebaliknya. 
Kalau kita melihat kepada golongan Hanafiyyah, mereka membahagikan hukum taklifi kepada 7 bahagian iaitu dengan menambah 2 perkara lagi. Pertama makruh haram dan kedua karahah tanzih. Mereka menamakan hukum taklifi sebagai taklifiyyah. Kami tidak akan membahas hukum taklifiyyah ini kerana kami mahu melihat dari sudut fahaman ahli sunnah waljamaah.

ii) Hukum wad’i

Hukum wad’i ialah firman yang menjadikan sesuatu sebagai sebab adanya musabab atau sebagai sebab yang lain atau sebagai penghalang kepada adanya yang lain. Maka hukum wad’i terbahagi kepada 3 iaitu,
  1. Sebab – ialah sesuatu yang mendatangkan musabab atau hukum. Ia dilihat sebagai punca kepada musabab.
  2. Syarat – ialah sesuatu yang menyebabkan sabitnya sesuatu hukum. Jika tidak adanya syarat maka tidak mensabitkan adanya sesuatu hukum.
  3. Mani’ (penghalang) – ialah sesuatu yang menyebabkan tidak sabitnya kepada hukum. 
Daripada kedua hukum di atas iaitu taklifi dan wad’i membentuk 5 Rukun Islam iaitu,
  1. Mengucap dua kalimah syahadah
  2. Sembahyang 5 waktu sehari semalam
  3. Puasa di bulan ramadhan
  4. Menunaikan zakat dan
  5. Mengerjakan haji.
Kalau kita tidak melihat hukum-hukum tersebut dari sudut ilmu usul fiqh tetapi memadai ilmu feqah maka hukum-hukum itu ada lima, tetapi di sini kami melihat secara keseluruhan hukum-hukum tersebut maka ianya ada lapan. Lapan perkara ini lazimnya selalu termasuk dalam perbahasan ilmu feqah.
  1. Wajib
  2. Sunat
  3. Makruh
  4. Harus
  5. Halal
  6. Haram
  7. Sah dan
  8. Batal
Kesimpulannya, rahsia pertama dalam ibadah ialah mengetahui berkenaan peraturan yakni hukum. Hukum ini dilihat sebagai panduan untuk mendisplinkan diri. Ia menjadi tatacara dalam pelaksanaan ibadah seseorang muslim. Kalau dalam kebudayaan, tatacara dilihat sebagai adab tapi dalam konteks ibadah, ia dilihat sebagai hukum. Dengan adanya adab atau hukum, budaya dan ibadah kelihatan sempurna. 

Rahsia keduanya pula ialah ibadah menunjukkan adanya hubungan hablulminallah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hal ini tidak sukar ditangkap. Nawaitu tiap yang terkandung dalam rukun Islam itu menyebut ‘kerana Allah Ta’ala’ (lillahita’ala); menunjukkan apa yang kita lakukan dalam ritual ibadah adalah kerana Allah Ta’ala. Kami rasa inipun amat mudah untuk para pembaca fahami.

Tetapi kami ingin mengajak para pembaca melihat rahsia ibadah dari sudut sebenarnya dan ini akan memungkinkan para pembaca untuk melihat apa yang kami cuba sampaikan dengan pemahaman yang lebih mendalam atau para pembaca bersedia untuk tidak sependapat dengan kami! Selagi rahsia tidak dirasa, segala kemungkinan tetap ada.   

Bagaimana kalau kami katakan dalam ibadah itu sebenarnya kita tidak melepasipun peringkat hablulminallah tetapi sekadar hablulminnannas? Kecuali kita arif akan rahsia yang dikandung dalam ibadah itu sendiri yakni maksud kami kita tahu apa kehendak ibadah secara mutlaknya! Baiklah sebelum berterusan kita lihat dulu kenapa kami katakan peringkat ibadah cuma sekitaran perhubungan antara sesama manusia, bukan hubungan dengan Allah secara khususnya.

Apabila menyebut ibadah, lazimnya yang dibincangkan ialah perkara-perkara yang menyentuh rukun Islam seperti sembahyang, puasa, zakat dan haji. Begitu juga perkara-perkara amar makruf seperti tolong menolong, sedekah, berbuat baik atau amal jariah. Tidak susah untuk kita memahami bagaimana hablulminannas terjadi dalam amar makruf seperti tolong menolong, sedekah dan amal jariah sebab kita tahu perkara tersebut berlaku di antara sesama manusia (hablulminannas). 

Bagaimana dengan ibadah-ibadah khusus seperti sembahyang, puasa dan haji? Kami ingin mengambil contoh haji dan umrah untuk dibahaskan dahulu sebelum melihat kepada puasa dan sembahyang kerana kedua perkara ini kurang dibincangkan dalam menunjukan ianya berlaku antara hubungan manusia dengan manusia secara amnya. Kedua ibadah haji dan umrah tersebut adalah ibadah yang memerlukan seseorang pergi ke Baitullah. Dari sudut bahasanya haji beerti menqasadkan atau menuju sesuatu manakala umrah beerti ziarah. Firman Allah SWT bermaksud,

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kerana Allah.”
(Al Baqarah:196)

‘Kerana Allah’ pada maksud ayat di atas menunjukan adanya hubungan manusia dengan Allah SWT pada ibadah haji maupun umrah. Suka kami mengingatkan semula tujuan kami menulis buku ini adalah untuk melihat sesuatu itu pada sudut rahsianya. Kalau kita melihat ayat di atas sepintas lalu memang kedapatan hablulminallah dalam ibadah tersebut sedangkan kami seperti menafikannya kerana menganggap pula ibadah haji atau umrah tidak menunjukkan berlakunya hablulminallah tetapi yang berlaku ialah hablulminannas. Maka kami perlu menghuraikan kenapa kami berpendapat demikian agar para pembaca tidak menjadi keliru.

Dalam membahas rahsia agama maka seseorang akan sampai kepada tahap iman, Islam, tauhid dan makrifah. Bermula hablulminallah pada tahap tauhid. Ini yang pertama para pembaca perlu maklum kerana ianya adalah peraturan dalam ilmu rahsia agama. Kenapa jadi demikian? Mesti ada rasionalnya. Maka berbalik pada huraian kami yang mengambil contoh haji dan umrah, kita perlu melihat keduanya pada tahap Islam sebab kedua itu termasuk dalam bahasan Islam dan skop bahasan Islam ialah ibadah, muamalah, munakahah dan jenayah. Haji dan umrah termasuk dalam bahasan pertama Islam iaitu ibadah.

Kalau para pembaca melihat pada tahap ketiga iaitu tauhid, memang terdapat hablulminallah di sini. Tetapi sebelum melihat kepada tahap tersebut para pembaca perlu melihatnya pada tahap kedua dahulu supaya ilmu tentang rahsia agama menurut peraturan yang sewajarnya. Setiap tahap mempunyai ilmu dan amalnya tetapi dalam definisi istilah ‘rahsia’, kami berpendapat amal yang sebenar amal ialah amal yang menyampaikan seseorang kepada Allah SWT. Maka apa jua ilmu yang kita dapati dan pelajari seterusnya diamalkan, mestilah ia menyampaikan kita kepada Allah dan mestilah amalan itu diterima Allah SWT. Sebelum berterusan kita lihat dulu apakah dia amalan-amalan yang tidak sampai dan tidak diterima Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam surah Al Kahfi ayat 105 bermaksud,

(Al Kahfi:105)

“Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”
(Al Kahfi:105)

Dan lagi firmanNya bermaksud,

“…Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Juga firmanNya dalam surah Al An’aam yang bermaksud,

“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, nescaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Al An’aam:88)

Dan lagi firmanNya dalam surah Al Maa’idah yang bermaksud,

“…Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan dia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”
(Al Maa’idah:5)

Kemudian firmanNya lagi,

(Ibrahim:18)

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”
(Ibrahim:18)

Az zumar:65

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu, jika kamu mempersekutukan (Allah) nescaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Az zumar:65) 

(Al Anfaal:69)

“(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu dan lebih banyak hartabenda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bahagian mereka dan kamu telah menikmati bahagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bahagiannya dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat dan mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(Al Anfaal:69)

Sekadar melihat beberapa contoh ayat, yang dapat kami simpulkan ialah amalan-amalan yang tidak sampai atau tidak diterima Allah SWT (amalan sia-sia dan rugi) ialah amalan orang-orang kafir, murtad, munafiq juga musyrikin dan kalau kita perhalusi semua amalan itu terkandung syirik di dalamnya. Syirik terjadi lantaran seseorang menjadi kafir dan murtad ataupun menjadi munafiq dan musyrikin. 

Kafir beerti engkar (tidak mematuhi kehendak dan hukum-hukum Islam), murtad beerti batal syahadah (keluar dari agama Islam). Munafiq beerti berpura-pura manakala musyrikin beerti menyekutukan Allah. Justeru jika hal ini terjadi dalam ibadah seseorang maka wajar saja kami katakan ibadah-ibadah yang mereka lakukan tidak melepasi hablulminallah. Di sisi manusia (hablulminannas), memang kelihatan seperti ibadah mereka diterima atau sampai tetapi kalau kita perhalusi dari sudut ‘rahsia’, maka ada sudut lain yang perlu kita lihat dan pastikan sebelum boleh kita katakan berlaku hablulminnallah dalam ibadah tersebut. 

Kemudian kita lihat pula amalan-amalan bagaimana yang diterima Allah SWT ? Dalam beberapa ayat Al Quran, Allah SWT berfirman antara lainnya,

(Ali Imran:57)

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal soleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalai.”
(Ali Imran:57)

(Al Kahfi:30)

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal soleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.”
(Al Kahfi:30)

(Al Kahfi:46)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi soleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(Al Kahfi:46)

Kesimpulannya, amalan yang diterima Allah SWT ialah amalan yang soleh yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Dan amalan soleh yang dimaksudkan ialah amalan yang tidak mengandungi segala jenis syirik, hanya tauhid semata-mata. Jika amalan kita beserta dengan syirik, hablulminannas boleh terjadi tetapi tidak sama sekali berlaku hablulminnallah dalam ertikata sebenar. Dalam amalan yang beserta tauhid, hablulminannas dan hablulminallah berlaku keduanya serentak. Itu sebabnya kami katakan hubungan dengan Allah sebenarnya bermula pada tahap tauhid iaitu tahap ketiga dalam rahsia agama.

Firman Allah dalam surah An Nisaa’ ayat 116 bermaksud, 

“…Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya dia telah tersesat sejauh-jauhnya.”

Baiklah, kami akan membongkar rahsia ibadah sehingga ke tahap ilmu dan amal yang menyampaikan seseorang kepada Allah SWT (hablulminallah). Kita lihat dalam ibadah haji seperti maksud surah Al Baqarah:196, perintah Allah SWT ialah ‘sempurnakanlah’ ibadah haji dan umrah kerana Allah. Apabila melakukan sesuatu ibadah, untuk sampai kepada hakikat sempurna mestilah ibadah itu dilakukan semata-mata ikhlas kerana Allah. Keikhlasan dan kesempurnaan dalam ibadah inilah yang menyampaikan seseorang kepada tahap hablulminallah iaitu tahap ketiga dalam rahsia agama (tauhid).

Sabda nabi Muhammad saw bermaksud,

“Sesiapa yang datang bertujuan mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas kerana Allah, sesungguhnya akan diampunkan segala dosanya yang telah lalu dan dosa yang terkemudian serta dapat mensyafaatkan orang yang didoakan.”    
(Riwayat Al Munziri)

Rahsia kesempurnaan ibadah haji di sini ialah ikhlas sebagaimana yang disabdakan oleh nabi Muhammad saw di atas. Kami akui ikhlas itupun boleh dicapai melalui tahap iman dan Islam tetapi sekali lagi kami melihat ikhlas pada matlamat hakikat dan kesempurnaannya menurut ilmu dan amal. Pada tahap iman, ikhlas beerti ehsan. Maksudnya untuk mencapai tahap ikhlas dalam ibadah ialah sebagaimana yang diajarkan nabi melalui sabdanya,

“Engkau hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekiranya engkau tidak melihatNya, maka ketahuilah bahawa Dia sentiasa melihatmu.”  
(Hadis riwayat Abu Hurairah r.a)

Apa yang dimaksudkan nabi melalui hadis di atas ialah dalam menjalani ibadah hendaklah kita melakukan ibadah tersebut seolah-olah kita melihat Allah menyaksikan ibadah yang kita lakukan atau jika tidakpun hendaklah kita yakin bahawa Allah sentiasa melihat ibadah yang kita lakukan. Dengan ini barulah kita merasakan ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia sebaliknya dihargai dengan pelbagai ganjaran oleh Allah SWT. Sekaligus menghasilkan rasa ikhlas kita dalam beribadah. 

Kalau kita perhatikan, acapkali apabila ulama-ulama merujuk kepada bab iman ini, maka hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a inilah yang selalu digunapakai sebagai rujukan. Hadis ini dikenal sebagai Hadis Jibrail. Justeru apabila kami melihat hakikat ikhlas dalam iman maka sayugialah kami juga merujuk kepada hadis Jibrail ini.

Pada tahap Islam pula, ikhlas beerti ‘kerana Allah Ta’ala’. Bermakna apa juga ibadah yang kita lakukan adalah semata-mata kerana Allah SWT. Ini berdasarkan niat atau ‘nawaitu’ ibadah itu sendiri berakhir dengan lafaz ‘lillahi Ta’ala’ yang beerti ‘kerana Allah Ta’ala’. Kami berpendapat demikian kerana apa juga ibadah yang dilakukan selain dari ‘kerana Allah Ta’ala’, maka ianya bukanlah ibadah yang ikhlas apatah lagi nawaitunya pun telah salah. Ini termasuklah ibadah kerana hendakkan ganjaran pahala dan syurga. Ibadah sebegini secara tidak langsung melarikan ‘nawaitu’ asal kita. Mungkin para pembaca bersetuju dengan kami jika kami mengatakan sememangnya dalam niat setiap ibadah-ibadah fardhu atau sunat, ia diakhiri dengan lafaz ‘lillahi Ta’ala’. Ini adalah lafaz akhir setiap niat ibadah.

Pada tahap tauhid ikhlas beerti seAllah pada af’al, asma, sifat dan zat. Selagi tidak dapat kita mengesakan Allah pada af’al, asma, sifat dan zatNya, maka selama itulah tingkatan ikhlas kita hanya sampai pada peringkat iman dan Islam sahaja. Secara peribadi untuk sampai kepada ikhlas peringkat ini kami berpendapat tiada cara lain melainkan hendaklah seseorang beramal dengan amalan tauhid.

Ikhlas pada tahap makrifah sebagaimana hadis nabi “Dikemudian hari nanti ada umatku yang masuk syurga tanpa hisab.” Pada tahap ini perlulah keikhlasan seseorang itu melepasi tahap iman, Islam dan tauhid terlebih dahulu. Bagaimanapun kami berpendapat ini sekadar aturan dalam perjalanan ilmunya sahaja sedangkan pada hakikat sebenarnya hanya Allah SWT sahaja yang mengetahui hakikat ikhlas kita kepadaNya. Kalau para pembaca bertanyakan pendapat peribadi kami, kami yakin apabila seseorang itu dapat mentauhidkan Allah SWT dengan sebenar-benar tauhid menurut ilmu dan amalnya, sesungguhnya dialah orang yang benar-benar ikhlas dan dialah yang nabi maksudkan umatnya yang masuk syurga tanpa hisab. Kenapa mereka masuk syurga tanpa hisab? Sebabnya mereka selama melakukan ibadah tidak mengharapkan apa-apa ganjaran dari Allah melainkan duduk dalam hakikat ikhlas semata-mata. Duduk dalam hakikat ikhlas pada tahap makrifah beerti mereka tidak melihat dirinya melakukan amal melainkan melihat keadaan hal qudrat dan iradat Allah yang berlaku dalam amalan atau ibadah mereka. Inilah rahsia di dalam rahsia agama yang perlu para pembaca cari amalannya. Kami di sini sekadar menuliskan sedikit ilmunya buat rujukan para pembaca.

Kemudian kepada contoh kedua iaitu puasa. Seperti lazimnya ibadah puasa telah diterima secara amnya sebagai satu-satunya cara untuk seseorang menghampiri Allah SWT melalui amalan puasa.  Nabi Muhammad saw telah bersabda dalam sebuah hadis yang bermaksud,

“Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Setiap amal anak Adam teruntuk baginya kecuali puasa. Puasa itu adalah untukKu dan Aku yang akan memberinya pahala.”
 (Riwayat daripada Abu Hurairah r.a)

Namun kami melihat puasa yang menghampirkan seseorang kepada Allah SWT ialah puasa yang dilihat secara khusus bukan secara amnya. Puasa khusus yang kami maksudkan ialah puasa itu dilihat sebagai satu amalan dan amalan itu pula ialah amalan yang diterima dan sampai kepada Allah SWT. Maka sekali lagi kami ingin mengajak para pembaca melihat semula beberapa dalil yang telah kami paparkan di muka surat ???????? sebagai rujukan. Dengan mengambil dalil tersebut sebagai rujukan dapatlah kita melihat amalan puasa bagaimana pula yang tidak diterima Allah SWT dan amalan puasa yang bagaimana pula yang menyampaikan seseorang kepada Allah. Rahsia diterima atau ditolak amalan puasa seseorang ialah pada amalan puasa itu sendiri sama ada ia beserta syirik di dalamnya atau beserta tauhid!

Firman Allah SWT dalam surah Al An’aam,

(Al An’aam:82)

Yang bermaksud: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Al An’aam:82)

Baiklah, kita lihat definisi puasa menurut syarak. Erti puasa ialah menahan diri dari lapar dan dahaga serta dari sesuatu perkara yang membatalkannya bermula dari terbit fajar sehingga terbenam matahari. Perkara-perkara yang membatalkan puasa antaranya ialah perkara yang dilakukan dengan sengaja seperti makan dan minum di siang hari, muntah, keluar mani dan juga murtad. Para pembaca boleh merujuk perkara-perkara yang membatalkan puasa ini secara keseluruhannya pada kitab-kitab feqah. Kami tidak bermaksud untuk melihat perkara-perkara tersebut secara mendalam akan tetapi ingin membawa para pembaca melihat kepada perkara-perkara yang kurang diberi perhatian tetapi sebenarnya ia juga boleh mempengaruhi kesempurnaan puasa kita.

Kalau kita lihat antara perkara-perkara yang boleh mengurangkan pahala puasa adalah berpunca dari pancaindera kita sendiri seperti menggunakan mata untuk memandang sesuatu yang boleh menimbulkan syawat seperti melihat perempuan yang berpakaian seksi. Melihat gambar atau cerita lucah. Termasuk perkara yang mengurangkan pahala puasa ialah menggunakan mulut untuk berkata perkataan-perkataan yang sia-sia, memaki hamun, mengumpat dan fitnah. Juga menggunakan telinga untuk mendengar perkataan-perkataan yang tidak baik seperti umpatan dan fitnah. Dan mendengar muzik sehingga melalaikan waktu sembahyang. 

Kami melihat hadis nabi di atas sebagai isyarat Allah SWT ingin memberitahu kepada kita bahawa ketiga-tiga pancaindera iaitu telinga, mata dan mulut memainkan peranan penting dalam menentukan kesempurnaan puasa seseorang dan seterusnya kesempurnaan tersebutlah yang mampu membuatkan amalan puasa kita mencapai maksud ‘hablulminallah’ iaitu ibadah yang menghasilkan hubungan hamba dengan Allah. 

‘Puasa itu adalah untukKu’,  bermaksud kalau kita lihat dari sudut ilmu usuludin puasa itu untuk Allah SWT kerana sesungguhnya Dialah yang bersifat dengan sifat samak, basar dan kalam maka hamba diperintahkan menahan dirinya (puasa) dengan mengisbatkan sifat samak, basar dan kalam itu milik Allah dengan seesa-esanya. Di sini kalau para pembaca perhalusi akan nampak perintah mengesakan sifat-sifatNya secara tidak langsung. Inilah maksud Allah ‘untukKu’. 

Para pembaca perlu menguasai sedikit ilmu usuludin untuk memudah fahamkan apa maksud kami ini. Esanya sifat samak, basar dan kalam Allah hinggakan kesempurnaan setiap pendengaranNya, penglihatanNya dan kalamNya bersifat mutlak. Kita tidak akan menyedari dan ‘merasainya’ sehingga kita benar-benar duduk dalam ‘puasa’ tauhid yang sebenar. Puasa peringkat ini juga menahan seseorang daripada menyamakan Allah pada sifatNya. 

Sayangnya kami tidak dapat menuliskannya dengan lebih mendalam pada buku ini kerana ianya termasuk dalam ilmu mukasyafah yang memerlukan adab antara guru dengan murid.

Dan terakhir yang ingin kami sentuh dalam ibadah ialah tentang sembahyang atau solat. Secara ringkasnya ibadah sembahyang yang menyampaikan seseorang kepada hubungan hablulminallah ialah dengan memerhati dan mengawasi kesempurnaan ketiga-tiga rukun dalam qalbi, qauli dan fekli. Rukun qalbi menjurus kepada hati. Maka rukun itu letaknya pada niat dan tertib. Berjumlah 2 sahaja. Takluknya pada sifat ilmu, sebab peraturan niat dan tertib ada dalam ilmu. Rukun qauli menjurus kepada percakapan atau kalam. Maka rukun qauli bersangkutan dengan bacaan-bacaan dalam solat iaitu membaca takbiratul ihram, membaca fatihah, membaca tahyat, membaca selawat dan mengucapkan salam. Berjumlah 6. Takluknya pada sifat samak sebab sifat itulah yang mendengar segala bacaan dalam solat. Rukun fekli menjurus kepada pergerakkan tubuh badan atau jasad. Pergerakan ini dilihat sebagai afa’l yang terjadi dengan sifat kudrat dan iradat Allah SWT.  Maka letaknya pada setiap gerakan dalam solat iaitu berdiri betul, rukuk, iktidal, sujud dan duduk antara dua sujud. Berjumlah 5. Takluknya pada basar sebab sifat itulah yang melihat setiap gerakan dalam solat. 

Dalam bahasan solat ini ada perkara yang ingin kami kongsikan dengan para pembaca iaitu menyentuh bacaan syahadah ketika duduk di antara dua sujud. Apakah yang para pembaca maklum atau sedari ketika seseorang membaca syahadah; kenapa jari telunjuk kanannya diangkat ke atas sedikit? kesempurnaan syahadah ialah dengan memerhati kepada 4 perkara iaitu,
  1. Diketahui akan makna syahadah itu
  2. Diikrar dengan lidah
  3. Ditasdiqkan maknanya ke dalam hati dan
  4. Diamalkan ke dalam hati hingga melimpah ke segenap anggota.
Ketika membaca syahadah kita mengetahui ‘Kita naik saksi bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah’. Dalam turutan ilmunya, yang kita saksikan ialah af’alNya ketika kita mengangkat jari telunjuk. Jika kita memahami apa yang dikatakan af’al Allah, saat itu sebenarnya telah berjalan keempat-empat perkara yang kami nyatakan di atas. Sebenarnya bukankah saat-saat seseorang membaca syahadah dalam solat itu, Allah SWT hendak memberitahu kepada kita bahawa benar-benar sempurna syahadah (dan solat) seseorang kerana ketika itu dapat disaksikan dan dirasakan berjalannya af’al Allah. Jika para pembaca menyedari hal ini, ketahuilah kenapa kita diwajibkan menunaikan solat.  Inilah solat yang menyampaikan seseorang kepada Allah dan tidak hanya menjadi hablulminannas sahaja.

Untuk memahami perkara ini memerlukan seseorang mahir dalam ilmu usuludin dan juga tasauf. Dari sudut ilmu feqah, rukun sembahyang dirujuk kepada rukun 13 iaitu bermula dari niat hingga tertib. Kami berpendapat dari sudut ilmu tasauf, perkara ini akan lebih mudah difaham dalam ilmu dan amalan tauhid sifat. Bagaimanapun melihat pada tingkatan perjalanan ilmu tasauf, wajar sahaja kita melihat pada tahap tauhid af’al dulu. Inipun pernah kami ulas panjang lebar dalam sebuah buku ‘Tauhid Dalam Tasauf’. Silalah para pembaca mendapatkan buku tersebut untuk pemahaman lanjut kerana kami tidak bermaksud mengulas panjang dalam buku Rahsia Agama ini.

Kesimpulannya jika dalam ibadah solat tersebut tidak dijaga rukun-rukun seperti yang kami nyatakan di atas, kemungkinan besar untuk berlakunya syirik seterusnya tertolak ibadah solat itu adalah besar. Apabila hal ini terjadi, mana mungkin ibadah solat sampai kepada hablulminallah tetapi sekadar hablulminannas sahaja. Dan perkara atau ilmu untuk menghindari syirik hanya didapati dalam ilmu tauhid iaitu tahap ketiga yang dibongkar dalam rahsia agama. 

ii)  Muamalah
    
Muamalah menjelaskan lagi kenapa kami maksudkan dalam Islam sekadar berlaku hubungan sesama manusia. Muamalah sendiri memerlukan kepada dua pelaku iaitu pihak peniaga dan pihak pembeli. 

Kenapa Islam tidak meminggirkan muamalah? Di samping menjana ekonomi kaum muslimin yang berniaga, keuntungannya juga dapat dinikmati oleh golongan yang kurang berkemampuan melalui sumbangan-sumbangan zakat perniagaan. Muamalah juga mengeratkan sirraturrahim antara sesama manusia melalui urusan jual beli. 

Kami berpendapat meskipun secara dasarnya muamalah itu sendiri lebih menjurus kepada hablulminannas akan tetapi jika seseorang mampu memperhalusi definisi muamalah nescaya mereka juga mampu melaksanakan hablulminannas dan hablulminallah dalam bermuamalah. Allah SWT memberi isyaratNya dalam Quran,

(Al Saff:10-11)

Bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya? Iaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya serta kamu berjuang membela dan menegakkan agama Allah dengan hartabenda dan dirimu.”
(Al Saff:10-11)

Dan firmanNya lagi,

Bermaksud: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang yang beriman akan jiwa mereka dan hartabenda mereka dengan (balasan), bahawa mereka akan beroleh syurga.”
(At Taubah:111)

Harta yang dimaksudkan sama ada diperolehi melalui sistem muamalah atau diterima melalui amal jariah dan sedekah jika digunakan untuk menegakkan agama Islam, nescaya Allah membalasnya dengan syurga. Syaratnya hendaklah kita beriman kepada Allah SWT.  

Muamalah menyentuh hal-hal atau konsep-konsep berniaga menurut acuan Islam seperti sistem jualbeli menurut syarak. Adanya ijab kabul, keikhlasan dalam timbangan, tiada unsur-unsur riba, tiada mengambil keuntungan berlipat ganda dan sebagainya.  Keutamaan muamalah ini seperti yang disarankan dalam Al Quran dan hadis nabi.

“Allah menghalalkan jualbeli.”
(Al Baqarah:275)

“Sembilan persepuluh rezeki itu datangnya dari perniagaan.”
(Al Hadis)

(al nisa:29)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta kamu sesama kamu dengan jalan yang salah (tipudaya) kecuali dengan jalan perniagaan yang  dihalalkan secara suka di antara kamu.”
(An Nisa’:29)

Menurut riwayat, Rasulullah SAW sendiri melibatkan diri dalam dunia perniagaan selama 28 tahun. Baginda telah berniaga di sekitar Semenanjung Arab seperti Musyaqar, Sun’a dan ‘Ukaz selama 13 tahun. Kemudian menguruskan perniagaan Siti Khadijah sebelum menjadi suaminya selama 15 tahun lagi. 

Muamalah dibahagikan kepada dua kategori iaitu pertama perkara yang diharuskan dan kedua perkara yang diharamkan. Perkara yang diharuskan mengandungi 23 bab, daripada jualbeli hinggalah kepada waqaf. Perkara yang diharamkan pula mengandungi 4 bab iaitu riba, monopoli, menyorok barang dan menipu dalam timbangan atau sukatan. Berkenaan riba ini, Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 275 berfirman yang bermaksud,

“Allah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba.”

Larangan melakukan monopoli pula seperti yang disabdakan nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang bermaksud,

“Tidak akan melakukan perbuatan monopoli barang melainkan orang yang jahat.”
(Riwayat Muslim)

23 bab dalam perkara yang harus itu pula sebaiknya para pembaca mendapatkan buku feqh yang lengkap. Kami tidak bercadang mengulasnya dalam buku ini. Kami sekadar mahu para pembaca melihat intipati persoalan atau perbahasan muamalah itu ialah berkenaan soal perniagaan, soal ekonomi umat Islam.

Kesimpulannya apa yang Allah hendak ajar kita pada bab muamalah ini ialah aspek-aspek ekonomi tidak dipinggirkan dalam agama Islam dan pada bab ini rasanya para pembaca lebih mudah menerima ianya lebih menjurus kepada hablulminannas. Bagaimanapun jika para pembaca inginkan urusan jualbeli itu terarah kepada hablulminallah, maka perlu pula jualbeli itu dilihat sebagai suatu amalan yang menyampaikan seseorang kepada Allah maka sekali lagi dalam amalan jualbeli itu sendiri kita perlu serapkan nilai-nilai keikhlasan yang sebenar.


iii) Munakahah

Munakahah ialah bab yang membincangkan soal nikah kahwin seperti soal mahar (maskahwin), talak, rujuk, iddah, nusyuz dan beberapa perkara berkaitan. Bersabda nabi Muhammad SAW,

“Perkahwinan itu sunahku. Sesiapa yang benci kepada sunahku maka dia bukan daripada kalangan umatku.”

Firman Allah SWT bermaksud,
“Dan kahwinkanlah orang-orang yang sendirian  di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkahwin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” 
 (Al Nur:32)

Rahsia munakahah itu sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat 49 surah Al Dhariyat.

“Dan tiap-tiap jenis kamu, Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingati (Kekuasaan Kami dan mentauhidkan Kami).”

Yang dimaksudkan mengingati itu ialah apabila seorang lupa maka pasangannya akan mengingatkannya. Sehingga apabila terbit fadilat tauhid kepada mereka maka Allah SWT yang akan mengingatkan mereka.

iv) Jenayah
Firman Allah SWT bermaksud,

Al zalzalah:7-8

“Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah nescaya akan dilihat (dalam surat amalnya) dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihat (dalam surat amalnya).”
(Al Zalzalah:7-8)

Menurut fuqaha, jenayah ialah suatu perbuatan atau perlakuan yang diharamkan oleh syarak yang dilakukan terhadap manusia seperti membunuh, mencuri atau mencederakan. Sabit perlakuan jenayah boleh dikenakan hukum antara hudud, qisas dan takzir. Kalau kita perhatikan di sini, rahsia agama menyentuh semua perkara. Justeru mereka yang memegang rahsia agama mengetahui hakikat kehendak agama itu sendiri.

Ulama telah sepakat membahagikan undang-undang dalam jenayah mensabitkan kepada 3 hukum iaitu,
  1. Hudud
  2. Qisas
  3. Takzir
i) Hudud

Hudud adalah kata jama’ daripada perkataan ‘had’. Menurut bahasa hudud bermaksud mencegah atau mengadakan sekatan atau halangan di antara dua perkara atau benda. Dari istilah syarak pula, had ialah suatu hukuman yang telah ditetapkan terhadap sesuatu kesalahan jenayah yang berkaitan dengan hak Allah SWT seperti mencuri, berzina, membunuh dan sebagainya. Hukum hudud semata-mata berdasarkan perintah Allah SWT dalam Al Quran. Contohnya hukuman terhadap penzina ialah berdasarkan firman Allah SWT, 

Al Nur:2

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina hendaklah kami sebat tiap-tiap seorang daripadanya dengan seratus kali sebat.”
(Al Nur:2)

Hukuman terhadap pencuri sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Maidah ayat 38.

Al maidah:38

“Dan orang lelaki yang mencuri dan orang perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan mereka sebagai suatu balasan dan sebab apa yang mereka telah lakukan (juga sebagai) suatu hukuman pencegah daripada Allah SWT.” 
(Al Maidah: 38)

ii) Qisas

Qisas menurut bahasa beerti mengikut iaitu kesalahan yang dilakukan dibalas dengan kesalahan itu juga. Contohnya jika Karim mencederakan Hamid maka hukumnya hendaklah Hamid mencederakan Karim sebagaimana kecederaan yang dia alami akibat perbuatan Karim.

Qisas menurut syarak dan fuqaha ialah suatu hukuman yang dibalas setimpal dengan kesalahan yang dilakukan oleh pesalah. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah bermaksud,

Al baqarah:178

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu menjalankan hukum qisas (yakni balasan yang setimpal) dalam perkara orang mati dibunuh iaitu orang merdeka dengan orang merdeka dan hamba dengan hamba dan perempuan dengan perempuan.”
(Al Baqarah: 178)

iii) Takzir

Takzir beerti menolak atau menghalang. Hukuman yang dikenakan dengan harapan dapat menghalang orang yang telah melakukan kesalahan mengulanginya pada waktu lain. 

Menurut syarak, takzir beerti suatu hukuman yang tidak ditetapkan keadaannya oleh syarak berbanding kesalahan lain dalam hukuman qisas, takzir dan kifarah. Hukuman dalam takzir tidak terkandung dalam Al Quran dan Al Hadis. Ia terpulang kepada budi bicara hakim, kadi, mufti atau pemerintah. Oleh itu hukuman takzir hendaklah mengikut gaya hidup masyarakat, individu atau keadaan sesuatu tempat.

Perlu para pembaca melihat perbezaan antara hudud, qisas dan takzir ini. Hudud adalah hukuman yang menjadi hak Allah SWT dan hak orang ramai. Hakim atau pemerintah tidak dapat menentukan sendiri jenis hukuman kepada pesalah melainkan menurut apa yang diperintahkan dalam Al Quran. Qisas pula tidak semata-mata menurut apa yang diperintah dalam Al Quran tetapi tertakluk pada individu dan waris. Sebagai contoh terbatalnya hukuman bunuh jika si pesalah mendapat keampunan daripada keluarga mangsa. Maka hakim atau pemerintah hanya boleh menjatuhkan hukum takzir. Hukum takzir sekadar bergantung kepada keadaan atau kesesuaian kesalahan serta keadaan penjenayah. Takzir tidak semestinya melalui saksi dan ia boleh dikenakan juga ke atas kanak-kanak yang belum cukup umur.



TAUHID


Oleh kerana kita di bawah tajuk ‘rahsia agama’, maka sewajarnya kita melihat juga rahsia yang disingkap dalam agama berkenaan tauhid. Tauhid sebagaimana yang kita sedia maklum beerti esa. Mentauhidkan Allah SWT beerti mengesakan Allah SWT. Perjalanan tauhid beerti perjalanan mengesakan Allah SWT. Ilmu tauhid beerti pengetahuan untuk mengesakan. Amalan tauhid beerti perbuatan untuk mengesakan.

Jika tidak disebabkan perkara ini kami ingin huraikan pada buku ini, wajar saja kami katakan tersingkapnya rahsia tauhid dalam agama ialah melalui amalan tauhid bukan melalui ilmu yang didapati melalui pembacaan. Seandainya kita berhenti pada tahap ilmu dan tidak terus kepada amal, nescaya rahsia tauhid tinggal rahsia sahaja. Guru sekadar membekalkan ilmu dan menyuruh mengamalkannya agar rahsia tauhid diserlahkan melalui zauq amal. Zauq ilmu sekadar memotivasikan diri untuk beramal tetapi kemungkinan untuk tidak beramal tetap ada. Sedangkan zauq amal benar-benar membongkar rahsia tauhid sekaligus rahsia agama. Pada tahap inilah kita diberiNya kefahaman yang tinggi. Jika kita mempelajari ilmu tauhid memang kita akan beroleh keyakinan yang tinggi terhadap tauhid tetapi jika kita beramal dengan ilmu tauhid kita akan beroleh kefahaman melalui rasa yang lebih tinggi terhadap tauhid. Jadi pada suatu tahap, beza antara ilmu dan amal ialah seperti tahu dan faham. Pada tahap kedua seperti tahu dan rasa. Pada tahap ketiga seperti tahu dan makrifah. InsyaAllah!

Kami difahamkan dan kami percaya apabila seseorang melepasi tahap tauhid, akan banyak rahsia ilmu-ilmu Allah terbuka padanya. Kami cuba usahakan untuk mengupas rahsia tauhid biarpun menyedari kekuatan penulisan cuma dapat melepasi tahap ilmu. Tahap pertama pada tauhid ialah dapat mendekatkan seseorang kepada Allah SWT. Untuk bahasa mudahnya mereka yang dapat membebaskan diri dari syirik beerti segala amalan mereka diterima Allah SWT. Inilah tahap pertama yang perlu kita yakini. Justeru rahsia tauhid ialah kita mengetahui ianya sebagai satu-satunya cara untuk seseorang mengetahui sama ada amalannya diterima atau ditolak. Ringkasnya tauhid diterima manakala syirik ditolak – inilah rahsia pertamanya!

Bunyinya agak keras tetapi dalam hakikat hanya yang haq mengalahkan yang batil. Kami perlu menulis panjang pada huraian tauhid ini sebab kami sedaya upaya cuba memahamkan para pembaca berkenaan rahsia tauhid dalam segenap ruang dan sudut bicaranya. 

Meletakkan sesuatu amalan tertolak atau sia-sia kerana tidak tauhid seakan Allah SWT tidak adil pada hambaNya. Bagi kami lebih tidak adil jika seorang hamba mengkhianati Tuhannya. Firman Allah SWT dalam surah Al Isra’ ayat 23 bermaksud,

“Dan Tuhanmu telah perintahkan supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata…”

Kami sedar ada yang berpendapat bukan semua yang berada di luar tauhid yakni syirik, amalannya tidak diterima atau ditolak. Contohnya golongan Muqarabiin dan Ashabulyamin. Allah SWT menerima amalan mereka meskipun golongan ini belum seratus peratus bebas dari hama syirik berdasarkan surah Al Waqiah yang dirujuk sebagai dalil menunjukan amalan yang mengandungi syirik diterima Allah SWT. Sebenarnya kami tidak nampakpun ada tanda-tanda syirik pada golongan Muqarabiin dan Ashabulyamin pada ayat tersebut. Mari kita lihat turutan ayat  tersebut,

(Al waqiah: 88-96)

“(88) Kesudahannya jika ia (yang mati itu) dari orang-orang Muqarrabiin. 
(89) Maka (ia akan beroleh) rehat kesenangan, dan rahmat kesegaran, serta syurga kenikmatan. (90) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan (Ashabulyamin) 
(91) Maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. (92) Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, (93) Maka dia mendapat hidangan air yang mendidih. (94) Dan dibakar di dalam neraka. (95) Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (96) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.” 

(Al Waqiah:88-96)

Orang-orang Muqarrabiin yang dimaksudkan dalam ayat di atas ialah orang-orang yang paling dulu beriman dan mereka inilah yang didekatkan dengan Allah SWT . Maka wajarlah orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT itu apabila mati, Allah SWT memberikan ganjaran syurga dengan segala kesenangan dan kesegaran. Cuma apakah mereka ini di samping dapat masuk syurga, dapat juga melihat Allah SWT ? Firman Allah SWT dalam surah yang sama pada ayat 10 –  12,

Al waqiah 10-12

“ Dan orang-orang yang paling dulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk syurga). Mereka itulah orang yang di dekatkan (kepada Allah SWT). Berada dalam syurga kenikmatan.”
(Al waqiah 10-12)

Sayugianya mereka yang dekat kepada Allah SWT ini mestilah mempunyai amalan yang memungkinkan mereka dekat. Jika terdapat hama syirik pada mereka, nescaya mereka bukannya dekat bahkan jauh dariNya. 

An nisaa:116

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tiada mengampuni, jika Dia dipersekutukan (disyirikkan) dengan yang lain dan Dia mengampuni dosa yang kurang dari itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya. Barang siapa yang mensyirikkan Allah, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”
(An Nisaa:116)

Mungkin kita kena mencari dalil dari Al Quran yang menyebutkan mereka yang kedapatan hama syirik padanya, Allah SWT masih menerima amalan mereka dan kemungkinan untuk mereka mendapat kenikmatan syurga yang berlapis-lapis itu tetap ada. Dalam fokus kami untuk membongkar apa yang dikatakan rahsia agama itu, maka kami lebih menumpukan kepada matlamat utama rahsia tersebut iaitu untuk mengenal Allah SWT dengan makrifah yang tertinggi yang diizinkanNya. Kami tidak menolak pada ganjaran pahala atau syurga tetapi para pembaca perlu memfokus kepada sesuatu yang ingin para pembaca kecapi. 

Tahap-tahap tauhid seseorang juga berbeza sebagaimana tahap makrifah. Pada golongan ashabulyamin yang dikatakan mendapat selamat saja, kita perlu tanyakan kepada diri kita bagaimana mereka boleh mendapat selamat sahaja. Apakah kerana mereka ini belum benar-benar bebas dari hama syirik? Kami yakin, apabila tiada amalan-amalan syirik pada mereka, maka mereka ini akan mendapat keselamatan bahkan lebih dari itu kalau Allah SWT kehendaki. Kami yakin, dalam masalah syirik ini Allah SWT tiada berkompromi. Cumanya kalau kita melihat sesuatu itu dari sudut ilmunya sahaja, memang ianya menjadi lain daripada apa yang kita fikirkan tetapi sekali lagi kami tekankan apabila berkehendak kepada hakikat sesuatu rahsia, kita tidak boleh membataskan diri pada tahap ilmu sahaja tetapi hendaklah melangkaui ke tahap amalnya.

Al an am:82

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Al An’am:82)

Maksud ayat ini jelas, mereka yang mendapat keamanan dan petunjuk ialah mereka yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan amalan syirik. Melihat dari segi luaran akan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT ini terutama di kalangan bangsa Melayu memang ramai, dan begitu juga di kalangan orang Melayu yang beriman dengan Allah SWT ini kemudian mendapat keamanan dan petunjuk juga ramai. Sesungguhnya Allah SWT Maha Adil, Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Ini kami akui. Melayu dengan agama Islam sudah begitu sinonim. Minta maaflah kalau para pembaca terasa hati. Kami tidak bermaksud menolaknya akan tetapi kami dalam ruang membahaskan sesuatu itu pada tingkatan rahsianya, maka wajar saja kami melihat iman, keamanan dan petunjuk itu pada hak yang sepatutnya diperolehi seseorang. 

Oleh kerana kita sedang berbicara soal rahsia yang matlamatnya adalah hakikat atau kenyataan yang mutlak, yang pasti, maka rahsia agama itu dilihat sebagai amalan yang benar-benar diterima Allah SWT. Diterima di sini bermaksud suatu amalan yang membawa seseorang makrifah kepada Allah atau makrifatullah dalam peringkat kamalul yakin, bukan setakat ilmu yakin. Jadi kami tidak melihat ganjaran pahala atau syurga sebagai keutamaan dalam hakikat agama tetapi makrifatullah yang sempurna (kamal). Apapun, kesimpulannya apa yang kita cari itu yang kita dapat.

Dari sudut tauhid, jika benar-benar terbuka rahsia tauhid kepada kita, kita akan faham yang mana satu keutamaan yang lebih utama dari segalanya. Bagaimanapun kami bercakap atas dasar pengalaman peribadi, jadi tentulah ia tidak semestinya sama seperti apa yang para pembaca sendiri alami. Apapun kalau kita kembalikan sesuatu itu pada hakikat – hakikat tetaplah hak yang pasti. Inilah rasionalnya yang perlu kita terima.

Berbalik pada anggapan sesetengah pendapat mengatakan tidak semua amalan yang beserta syirik tertolak maka kami suka mengembalikan permasalahan ini pada dalil quran dan hadis sebab inilah sumber rujukan utama umat Islam. Dalam buku Rahsia Agama ini, kami akan menghuraikan lapisan demi lapisan perihal amalan yang diterima dan ditolak oleh Allah SWT. Semoga kita diberiNya kefahaman.

Az zumar:65

Mahfumnya, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu, jika kamu mempersekutukan (Allah) nescaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Az zumar:65)

Mempersekutukan Allah di sini menjurus kepada menduakan, menyamakan atau menyekutukanNya dengan sesuatu sama ada pada af’al, asma, sifat dan zatNya. Mereka yang ada secebis amalan sedemikian maka Allah SWT mengatakan mereka ini termasuk di kalangan orang-orang yang rugi. Rugi itu boleh kita tafsirkan sebagai rugi dari segi ganjaran atau imbuhan daripada amalan yang telah dilakukan kerana amalan tersebut tidak diterima oleh Allah SWT. Tidak mendapat ganjaran pahala dan tidak mendapat balasan syurga. Ini pada tahap pertama.

Bagi orang-orang kafir yang terbukti pula kesyirikan mereka, mereka juga boleh kita andaikan seseorang yang rugi kerana terang-terang amalan mereka ini ditolak oleh Allah SWT. Tetapi pada perkara yang lain, terkadang mereka ini diberi kebahagian berupa kemewahan, kesihatan dan kekuasaan. Mereka dikira beruntung. Jadi, dalam nisbah syirik yang amat besar yang mereka lakukan, dalam kerugian yang amat besar mereka alami, mereka tetap beroleh keuntungan yang tidak dapat kita nafikan. Ingin kami tanyakan pada para pembaca semua, apakah firman Allah SWT di atas (Surah Az Zumar:65) itu khusus untuk umat Islam sahaja? Kalau kita beranggapan mereka yang terdapat hama syirik di dalam amalannya dan Allah SWT masih boleh menerima amalan mereka, betapakah lagi terhadap orang-orang kafir tersebut. Tetapi sekali lagi kami tekankan di sini, kami dalam ruang membongkar apa yang dikatakan agama itu sudut rahsianya. Maksud kami pada perkara yang para pembaca terlepas pandang dan tidak menyedarinya. Itu yang dikatakan rahsia. Tujuan kami menulis di sini hanyalah untuk membongkar perkara-perkara yang para pembaca terlepas pandang dan tidak disedari itu. InsyaAllah. 

Al An’am:82

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Al An’am:82)

Maksud Allah SWT dalam ayat ini ialah kategori orang-orang yang beriman yang mendapat keamanan dan petunjuk. Mereka ini tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan syirik dalam apa definisipun sama ada pada syirik kafi atau jali. Justeru keamanan dan petunjuk yang mereka perolehi tentulah tingkatannya melebihi keamanan dan petunjuk pada mereka yang terdapat hama syirik dalam amalannya.

An nisaa:116

Maksudnya:“Sesungguhnya Allah tiada mengampuni, jika Dia dipersekutukan (disyirikkan) dengan yang lain dan Dia mengampuni dosa yang kurang dari itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya. Barang siapa yang mensyirikkan Allah, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”
(An Nisaa:116)

  Al An’am:161-163

Bermaksud ; “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah dibimbing oleh Tuhanku menuju jalan yang lurus, iaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Ibrahim itu bukanlah termasuk golongan orang yang musyrik.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya. Adapun yang demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri kepada Allah.”
(Al An’am:161-163)

Agama yang benar lagi lurus ialah agama tauhid. Untuk berserah diri kepada Allah SWT dalam keadaan suci bersih perlulah dalam tiap amalan kita sama ada dalam solat, ibadah, hidup dan mati hanyalah untuk Allah SWT dan melaksanakan perintahNya serta beriktikad tiada sekutu bagi Allah SWT, sesungguhnya hanya Dia saja yang Maha Esa.

Sekarang kita lihat pula maksud firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 62. Ayat ini kalau kita lihat sekali lalu akan menunjukkan mereka atau orang-orang yang melakukan syirik yang lebih besar dari hamapun masih Allah terima amalannya. 

Al Baqarah:62

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal soleh; mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” 
(Al Baqarah:62)
Apa yang Allah SWT hendak beritahu kita pada ayat di atas? Firman Allah; orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin, mereka ini Allah berikan ganjaran pahala dan ketenangan hati sehingga mereka tidak merasa sebarang keresahan (kekhuatiran). Tanyakan pada diri kita kenapa mereka mendapat ganjaran demikian? Allah SWT berfirman, siapa saja yang benar-benar beriman dan beramal soleh, maka layaklah mereka menerima kurnia Allah SWT.

Yang kita sedia maklum, orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin ini adalah golongan penyembah berhala. Orang-orang Shabiin seperti yang diceritakan dalam sejarah adalah penganut yang menyembah bintang dan dewa-dewa langit. Bukan sedikit syirik yang mereka lakukan malah sampai ke peringkat syirik khafi ul khafi. Sepintas lalu kita akan beranggapan ada juga orang-orang yang melakukan syirik yang melebihi tahap hama mendapat ganjaran kebaikan daripada Allah SWT (pahala dan syurga). Tidakah ini bertentangan dengan ayat-ayat Al Quran yang menghukumkan mereka yang melakukan syirik dibalas dengan seksaan yang pedih.  Tidak mendapat keampunan Allah dan mereka dikatakan sesat sejauh-jauhnya. 

Kalau para pembaca meneliti maksud ayat 62 surah Al Baqarah tersebut menyebutkan “siapa saja di antara mereka (Orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal soleh…”, mereka inilah yang Allah SWT janjikan ganjaran kebaikan berupa pahala dan syurga. Ertinya orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang dimaksudkan Allah SWT pada firmanNya di atas adalah orang-orang yang bebas dari segala syirik. Jika kedapatan syirik pada mereka nescaya mereka bukanlah di kalangan orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal soleh. Beriman bermaksud percaya dan penuh yakin Allah itu esa. Beramal soleh beerti melakukan segala amalan zahir dan bathin tanpa mencampur adukan amalan itu dengan amalan syirik. Kalau masih kedapatan dalam amalan mereka itu amalan syirik nescaya tidaklah amalan mereka dinamakan amalan soleh seperti maksud ayat tersebut. Tidakah Allah SWT itu Maha Mengetahui apa yang dinyatakan dan disembunyikan seseorang? Allah SWT tidak akan meletakan seseorang kepada tahap benar-benar beriman dan beramal soleh secara semberono. 

Ingin kami fahamkan kepada para pembaca di sini, masalah syirik adalah masalah akidah iaitu masalah yang boleh merosakan iktikad seseorang. Iktikad ini pula bersangkutan dengan iman – kepercayaan seseorang kepada Tuhannya. Atas sebab inilah apabila kita melihat rahsia sesuatu sama ada pada agama, iman, akidah atau iktikad; kita perlu melihatnya daripada sebesar-besar syirik sehingga kepada sekecil-kecil syirik. Rahsia itu sepatutnya sampai membongkar sesuatu ke akar umbinya. Pembongkaran itulah yang memerlukan kepada mata hati, barulah rahsia bertukar menjadi makrifah!

Seterusnya masalah yang akan menjadikan pemikiran para pembaca bercelaru ialah berkenaan perbuatan atau amalan syirik seseorang di masa lalu. Bagaimana dengan hal demikian? Sengaja kami selitkan masalah atau sebenarnya pertanyaan untuk kepastian dalam buku ini kerana kami sendiri berdepan dengan masalah yang serupa suatu ketika dulu.

Kalau ikut pengalaman kami sendiri, hal ini tidak bisa diselesaikan dengan hanya melihatnya melalui ilmu tauhid. Kita kena merasai dulu tauhid itu melalui amalannya bermula dari tauhid af’al, asma, sifat dan zat. Biasanya pada amalan tauhid af’al, kita akan diberiNya kefahaman bagaimana perbuatan syirik kita di masa lalu dilenyapkan melalui rasa atau zauq af’al. bolehkah para pembaca memahaminya? Baiklah kami akan cuba ulas menurut apa yang mampu dilakukan oleh kalam penulisan.

Af’al pada tahap ilmunya beerti perbuatan. Dan ini juga merangkumi segala perbuatan berupa amalan harian atau amalan yang kita katakan sebagai ibadah. Apabila kita beramal dengan musyahadah sebagaimana yang ditalkinkan guru, kita akan tahu bahawa af’al ini telah bermula dari sejak azali hingga kini tanpa berubah tetapi berlaku menurut apa yang dikehendakiNya dalam peraturan qada’ dan qadarNya. Dengan bahasa mudahnya af’al itu tidak dikeranakan oleh sesuatu kerana melainkan dengan sifat kudrat dan iradat Allah SWT jua. Jadinya berbalik soal syirik ini, di masa lalu dan di masa kini atau di masa apapun, semuanya terjadi dengan tidak dikeranakan oleh sesuatu kerana melainkan dengan sifat kudrat dan iradat Allah SWT. 

Masalahnya ialah kita dibekalkan akal oleh Allah SWT untuk memikirkan natijah sesuatu perkara. Inilah pendapat rasional yang seringkali kami hadapi. Untuk ini, kami tidak mahu mengulas panjang, cuma kami katakan bahawa akal ini tidak menyingkap rahsia sesuatu itu secara halus dan tidaklah sampai akal itu menembus sirr rububiyyah ini sekadar melalui kekuatannya berfikir. Mahu atau tidak, seseorang perlu mendapatkan makrifah untuk menangani sesuatu yang di luar batas fikir.  

Dalam buku Rahsia Agama ini, kami tidak sama sekali bermaksud menghurai panjang lebar berkenaan makrifah. Kami maklum, setinggi manapun makrifah seseorang, apabila diceritakan pada mana-mana kalampun, ia akan serta merta menjadi ilmu sahaja. Namun kami yakin, ilmu itupun kalau dibaca oleh seseorang yang mendapat makrifah, tidak menghalangnya daripada mendapatkan kefahaman yang mendalam sebab pada mereka ini, hijab ilmu itu tidak boleh melebihi zauq tauhid!

   
MAKRIFAH


Biar kami jelaskan dulu, kalau melihat sesuatu itu melalui singkapan rahsianya maka dalam konteks rahsia agama ini: rahsianya ialah wajib bagi setiap orang untuk mentauhidkan Allah SWT. Berkenaan makrifah ini, harus saja bagi Allah SWT untuk menganugerahkannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Bagaimanapun, kalau Allah SWT hendak beri makrifah ini adalah dengan dua syarat iaitu pertama hendaklah seseorang itu yakin dengan ilmunya kemudian ikhlas dengan gurunya. Tidak boleh sama sekali berburuk sangka.

Kita teruskan. Tahap-tahap makrifah ini sebenarnya telah kami jelaskan pada buku terdahulu akan tetapi pada mereka yang tidak berkesempatan membaca buku kami yang lalu, di sini kami paparkan tahap-tahap makrifah ini secara ringkas sahaja.
  1. Ilmu yakin
  2. Ainul yakin
  3. Hakkul yakin
  4. Kamalul yakin
Tahap-tahap makrifah yang kami susunkan di atas sekadar ada dalam perjalanan ilmu sahaja. Tidaklah ia menepati maksud sebenar makrifah sebagaimana yang hak bagi Allah. Maka tidak hairanlah kalau dalam buku-buku tasauf lainnya, mereka mendefinisikan makrifah itu dengan cara dan susunan yang berlainan. Masing-masing sekadar cuba memberi faham. Hak memberi faham yang sebenar adalah hak Allah SWT jua. Ini yang paling penting dan perlu para pembaca ketahui dan yakini. Kalau kita menyangka buku-buku yang memberikan kefahaman atau setingkat lebih atas, guru yang memberikan kefahaman – maka jatuh kita kepada syirik jali.

(Al Baqarah: 32)

“Mahasuci Engkau ya Allah, sesungguhnya tiada apa yang kami faham melainkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkau yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Al Baqarah: 32)   

Di bawah tajuk kecil ‘Tauhid’, kami katakan di situlah permulaan hubungan kita dengan Allah SWT sebab bila kita tidak menyekutukanNya dengan sesuatu maka berjalanlah tauhid itu sekaligus terlaksanalah perintah untuk mengesakan Allah sebagaimana yang difirmankan dalam ayat 1 surah Al Ikhlas.

Bila pula bermulanya hubungan Allah dengan kita? Kalau kami katakan ianya bermula pada tahap ini yakni makrifah maka bersalahan pula ia dari hukum ilmu sebab mengikut lazimnya apa yang kita ketahui ialah Allah SWT sentiasa berhubungan dengan makhlukNya tanpa ada sempadan yang mampu menghalangNya. Firman Allah SWT,

Al ikhlas:2

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu.” 
Al Ikhlas:2

Al baqarah:186

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al Baqarah:186)

Apa yang hendak kami sampaikan di sini ialah hubungan Allah kepada seseorang dalam zauq tauhid yang tinggi. Dalam hubungan yang tiada penghijabnya sama ada dari hijab ilmu atau amal. Kamipun memandang rahsia itu adalah salah satu dari hijab. Justeru kesudahan yang dapat meleburkan hijab-hijab tersebut adalah dengan makrifah. Apabila berjalannya makrifah Allah pada seseorang bermakna bermulalah hubungan Allah dengannya dalam definisi yang tinggi.  

Kalau kita berbalik pada maksud ehsan, maka ketika itu kita telah diberi keyakinan dalam bentuk makrifah, bukan duduk atas dasar seolah-olah. Sabda nabi Muhammad saw bermaksud,

“Hendaklah engkau beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Sekiranya engkau tidak melihatNya, maka yakinlah bahawa Dia sentiasa melihatmu.”
(Hadis riwayat Abu Hurairah r.a)

Sesiapa yang Allah SWT kurniakan makrifah sehingga terbuka mata hatinya maka dia bukan seolah-olah melihat Allah tetapi melihat Allah dalam esaNya pada af’al, asma, sifat dan zatNya. Sesuai dengan firman Allah,

(Al Baqarah:115)

“Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui.”
(Al Baqarah:115)

Kami berpendapat pada tahapan yang lain, makrifah boleh dibahagikan kepada 4 iaitu,
  1. Makrifah pada af’alNya
  2. Makrifah pada asmaNya
  3. Makrifah pada sifatNya
  4. Makrifah pada zatNya
Makrifah pada af’alNya beerti kenal Allah pada af’alNya sehinggakan setiap perbuatan pada gerak dan diam dapat dibezakan yang mana af’al Allah dan yang mana af’al hamba. Begitulah seterusnya pada makrifah asma, sifat dan zatNya. Dengan makrifah itulah seseorang dapat membezakan asma, sifat dan zat sehingga tidak bersamaan antara kesemuanya dengan makhluk. Perkara ini tidak dapat kami ulas panjang lebar sebab selain bersalahan dengan logik akal ia juga tidak mempunyai nas atau dalil yang dapat dijadikan hujjah. Sudut ilmunya memang ada dalam usuludin tetapi amalannya yang sebenar cuma ada dalam tasauf. 


AYAT-AYAT AL QURAN TIDAK BERTENTANGAN ANTARA SATU SAMA LAIN

Telah berfirman Allah SWT dalam beberapa surah antaranya,

“…Barangsiapa yang Allah kehendaki (kesesatan), nescaya disesatkanNya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (diberiNya petunjuk), nescaya dijadikanNya berada di atas jalan yang lurus.”
(Al An’am:39)

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu di tempatkan pada tingkatan terkebawah sekali dari (lapisan-lapisan dalam) neraka. Dan engkau tidak sekali-kali akan mendapat sesiapapun yang boleh menolong mereka.”
(An Nisa’:145)

“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat kerana mereka melupakan hari perhitungan.”
(Shaad:26)

“…Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk.”
(Az Zumar:23)

Kalau kita perhatikan ayat-ayat di atas seperti terdapat pertentangan antara satu sama lain. Dalam surah Al An’am:39, Allah SWT menegaskan kesesatan dan petunjuk kepada seseorang adalah di bawah takluk kehendakNya. Dan begitu juga seperti maksud firmanNya dalam surah Az Zumar:23, Allah sahaja yang berkuasa memberi petunjuk dan kesesatan. Tidak seorangpun yang dapat memberi petunjuk melainkanNya.

Kemudian pada ayat 26 surah Shaad, Allah mengingatkan sesiapa yang sesat dari jalanNya akan mendapat azab yang berat. Orang-orang munafiq pula akan di tempatkan di dalam neraka pada lapisan yang paling bawah kerana kemunafiqkan mereka (ayat 145, surah An Nisa’).

Kalau kita tidak memahami maksud ayat yang tersirat maka kita akan menganggap diri kita umpama berada dalam dilema. Maksud kami pada suatu tahap kita jadi pasrah. Sama seperti kaum Muktazilah! Sesat atau tidaknya kita bergantung kepada kehendak Allah akan tetapi pada satu ayat yang lain Allah akan menghukum seseorang yang sesat. Masalahnya di sini ialah di mana kehendak kita untuk mengelakkan diri dari menjadi sesat? Berdasarkan ayat di atas, kita tidak punya apa-apa pilihan melainkan bersandar pada ketentuan Ilahi. Di sinilah kami maksudkan ‘pasrah’ tadi.

Sebenarnya hal ini cukup sulit untuk difahami terutama jika para pembaca tiada mempelajari sekurang-kurangnya asas ilmu tauhid. Biarpun keterangan melalui lisan apatah lagi melalui penulisan, belum tentu apa yang kami tuliskan menepati kefahaman yang sebenar. Yang kami takuti, lain yang kami tulis, lain pula yang para pembaca fahami. Sesungguhnya tiada daya upaya kami untuk memberi kefahaman kepada para pembaca melainkan melalui taufik dan hidayah Allah SWT semata-mata.

Kita tengok kembali maksud ayat 39 surah Al An’am di atas. Apa yang Allah SWT hendak beritahu pada kita di sini sebenarnya? Rahsia ilmunya ada dalam tauhid, amalnya dalam tauhid sifat, makrifahnya setelah dapat kita membenarkan dengan jazam (100% yakin). Pada ayat ini, Allah SWT hendak beritahu kita bahawa sifat kudrat dan iradatNya adalah sesuatu yang haq. Maknanya tidak boleh sama sekali disekutukan kedua sifat itu dengan mana-mana sifat kudrat dan iradat yang lain (jikapun ada). 

Kami yakin ayat 39 surah Al An’am di atas tidak sama sekali para pembaca engkari kerana sebagai seorang muslim, kita wajib beriman dengan ayat-ayat Al Quran. Tetapi bagaimana hendak ‘dipakai’ ayat tersebut? Sekadar beriman saja kita masih dalam peringkat ilmu. Kalau hendak beramal maka kena ‘memakainya’. Allah SWT sudah banyak kali mengingatkan “hendaklah beriman dan beramal soleh!.” Tidak cukup dengan percaya atau yakin (beriman) sahaja akan tetapi hendaklah diamalkan kepercayaan atau keyakinan tersebut barulah sampai kita kepada maksud ‘beriman dan beramal soleh.’ Beramal soleh bermaksud dilakukan dengan perbuatan atau amalan (af’al) sama ada pada zahirnya atau bathinnya dengan tidak mencampur adukannya dengan syirik.

Justeru ayat 39 surah Al An’am dan juga ayat 23 surah Az Zumar di atas wajib kita terima dengan yakin bahawa sesungguhnya hanya Allah SWT yang menentukan sama ada kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disesatkan atau orang-orang yang ditunjuki. Jangan sama sekali kita menyangka ada kuasa atau kehendak lain daripada kuasa dan kehendak Allah SWT yang boleh menyesatkan atau memberi petunjuk jalan yang lurus. Untuk lebih memahami maksud kami hendaklah para pembaca mempunyai ilmu dan amalan tauhid sifat.

Kemudian pada ayat 26 surah Shaad, Allah SWT berfirman yang mahfumnya; Orang-orang yang sesat akan mendapat azab siksa yang berat. Maknanya kalau kita melihat pada dua ayat di atas (Al An’am:39 dan Az Zumar:23) bersama ayat 26 surah Shaad ini, orang-orang yang Allah tetapkan kesesatannya maka bagi mereka ini siksa yang pedih. Mungkin yang terfikir dibenak para pembaca ialah betapa ruginya mereka yang Allah sesatkan ini dan begitu juga jika ianya terjadi pada diri kita sendiri, bukankah itu satu kerugian yang amat besar! Oleh kerana kita mengimani ketiga-tiga ayat ini maka seharusnyalah kita memikirkan di manakah keadilan Allah SWT dalam memberi kita pilihan? 

Dalam surah Ar Ra’d:11, Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (nasib) yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar Rad:11)

Dalam ayat ini Allah SWT memberi pilihan kepada seseorang. Dalam konteks apa yang kita bicarakan di atas, pilihan menetapkan sesuatu (sesat atau tidak), ada pada kita. Kalau kita mengatakan tiada maknanya kita menolak maksud firman Allah pada surah Ar Rad tetapi kalau kita mengatakan ada bermakna kita menolak pula maksud ayat Al An’am dan Az Zumar. 

Baiklah, kita lihat semula maksud ayat 11 surah Ar Ra’d di atas. Untuk menafsirnya kita kena lihat lorong cerita keseluruhan ayat terdahulu dari surah Az Zumar:23, surah Al An’am:39, surah Shaad:26 dan surah Ar Ra’d:11. fokus kita kepada disesatkan atau ditunjukan atas kehendak siapa? Dua ayat di atas (Az Zumar:23 dan Al An’am:39), kehendak hanya milik Allah dan pada ayat 11 surah Ar Ra’d pula, kehendak itu ada pada kita. (diberi pilihan). Allah SWT berfirman dalam kalamNya sampai kepada kita dengan beberapa cara. Sama ada pada kalamNya yang berhuruf seperti Al Quran atau tidak berhuruf sehinggalah saat terjadinya sesuatu itu seperti takdir atau tidak berhuruf tetapi bersuara seperti bunyi halilintar. Kesemuanya dengan satu tujuan iaitu untuk mengajar kita, memberi kita petunjuk. firmanNya,

(Al Alaq:4)

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Al Alaq:4-5)

Apabila Allah SWT berfirman; tidak akan merubah nasih sesuatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya bermakna Allah meletakan pilihan berubah atau tidak berubah (disesatkan atau ditunjuki) kepada kita dengan anugerah akal. Acapkali Allah berfiman “tidakkah kamu memikirkan?” Apabila kita memikirkan dengan ilmu jalannya dengan amal. Apbila kita memikirkan dengan amal jalannya dengan makrifah.

Bila Allah perintahkan kepada kita untuk merubah nasib kita sendiri beerti kita kena letakkan perintah itu pada ilmu bukan akal. Kalau diletakkan pada akal nescaya terfikir oleh akal bahawa ada kehendak atau sifat iradat pada hamba. Tetapi kalau kita letakkan pada ilmu, maka Allah mengetahui segala sesuatu sebab hanya dia saja yang berilmu. Ertinya kita letakan ilmu itu kepada ilmu Allah bukan ilmu kita. Maka terletaklah kalam itu pada yang haq sebagaimana firmanNya,

“Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(Ali Imran:66) 

Maka kehendak untuk berubah itu ada pada sifat iradat Allah SWT bukan pada sifat kita yang dinamakan nafsu. Kehendak atau iradat Allah SWT atas nisbah ilmuNya yang Maha Mengetahui bukan dengan ilmu kita kerana sesungguhnya kita ini jahil.

Maka kalau dapat para pembaca faham maksud kami di sini ialah dalam membenarkan ayat 39 surah Al An’am dan ayat 23 surah Az Zumar iaitu kudrat dan iradat Allah (dalam menentukan sesat atau tidaknya seseorang), kita tidak menolak maksud ayat 11 surah Ar Ra’d (yang menunjukkan ada pada kita kehendak untuk memilih/berubah). 

Maka diketika itu termasuklah kita pada maksud akhir ayat 39 surah Al An’am iaitu “Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (diberiNya petunjuk) nescaya dijadikannya berada di jalan yang lurus.” Jalan lurus yang dimaksudkan Allah SWT itu ialah jalan yang menyampaikan kita pada tauhid. Apabila ini berlaku maka menurutlah kita akan perintahNya iaitu,

Al ikhlas:1

“Katakanlah sesungguhnya Allah itu esa.” 
(Al Ikhlas:1)